Tampilkan postingan dengan label Penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Februari 2022

PENGGUNAAN PESTISIDA ANORGANIK DALAM PENGENDALIAN HAMA/PENYAKIT TANAMAN



Penggunaan pestisida dalam pengendalian harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.         Gunakan pestisida bila populasi/jumlahnya telah mencapai tingkat kerusakan/ambang ekonomi;
2.         Gunakan pestisida yang berdaya bunuh selektif dengan konsentrasi dosis/takaran yang tepat;
3.         Gunakan pestisida yang residunya pendek dan mudah terurai oleh faktor lingkungan;
4.         Gunakan pestisida pada saat hama berada pada titik terlemah;
5.      Gunakan pestisida bila cara pengendalian lain sudah tidak efektif / ampuh dan efiisien lagi atau dengan kata lain cara pengendalian lain tidak berhasil.

Tahapan memilih pestisida yang akan digunakan untuk mengendalikan hama :
  1. Pastikan jenis hama yang menyerang tanaman dengan memperhatikan gejala serangan, bagian tanaman yang diserang (daun, batang, buah atau akar). Bila ragu bawa contoh bagian tanaman yang terserang beserta hamanya jika memungkinkan untuk ditanyakan kepada yang mengetahui;
  2. Cari informasi pestisida apa yang cocok untuk pengendalian hama yang menyerang tanaman;

  3. Pilih bentuk (formulasi) pestisida yang akan digunakan apakah cairan, butiran (granular) atau tepung. Jika dilihat dari pelayangan di udara maka bentuk butiran paling sedikit kemungkinannya untuk melayang di udara. Pestisida berbentuk cairan lebih kecil bahaya pelayangan di udara dibanding berbentuk tepung. Jika petani memiliki alat semprot lebih tepat memilih pestisida berbentuk cairan EC, WP atau SP. Jika tidak punya maka pestisida yang dipilih berbentuk butiran;
  4. Pilih pestisida dalam kemasan kecil yang isinya dapat habis dalam sekali pakai guna mengurangi bahaya keracunan selama penyimpanan.     
Jenis - jenis pestisida berdasarkan organisme sasaran:
1.  Insektisida (racun serangga)
2.  Herbisida (racun rumput)
3.  Fungisida (racun untuk mengendalikan penyakit akibat jamur)
4.  Rodentisida (racun tikus)
5.  Molusida (racun keong)
6.  Bakterisida (racun untuk mengendalikan penyakit akibat bakteri)
7.  Acarisida (racun tungau)

Sebelum menggunakan pestisida perhatikan label/tulisan pada kemasan, brosur atau leaflet. Gunakan pestisida sesuai dosis yang dianjurkan dalam kemasan, jangan melebihi dosis. Biasanya pada kemasan terdapat lambang-lambang tertentu (piktogram / diagram gambar) yang sangat berguna agar petani yang menggunakan lebih waspada. Gambar tersebut adalah sbb:


Cara insektisida membunuh serangga hama yaitu:
1.         Meracuni lambung bila insektisida masuk dalam tubuh bersama bagian tanaman yang dimakan.
2.   Insektisida kontak akan masuk tubuh hama serangga melalui kulit (kutikula). Jadi harus langsung bersentuhan dengan hama yang disemprot.
3.        Insektisida masuk melalui pernapasan. Seperti insektisida untuk mengatasi hama gudang.

Dalam melakukan penyemprotan pestisida perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.       Pilih volume / isi tabung alat semprotan sesuai dengan luas areal yang akan disemprot. Jika arealnya luas tabung alat semprotan kecil akan kurang tepat karena petani harus sering mengisinya;
2.       Gunakan alat pengaman (masker penutup hidung dan mulut, baju lengan panjang, sarung tangan, sepatu boot dan jaket;
3.       Penyemprotan yang tepat untuk golongan serangga sebaiknya saat stadium larva (ulat) dan nimfa (serangga muda/anak) atau masih berupa telur. Serangga dalam stadium pupa dan imago (serangga dewasa) umumnya kurang peka terhadap insektisida;
4.       waktu yang baik dilakukan penyemprotan hama adalah waktu terjadi aliran udara naik yaitu jam 08.00 – 11.00 WIB (pagi hari) atau sore hari jam 3 – 6 sore. Jika terlalu pagi atau sore  mengakibatkan pestisida yang menempel pada bagian tanaman akan terlalu lama mengering dan mengakibatkan tanaman yang disemprot keracunan. Terlalu pagi daun masih berembun sehingga pestisida yang disemprot tidak dapat merata. Jika matahari terlalu terik akan mengakibatkan pestisida mudah menguap.
5.       Jangan melakukan saat angin kencang karena banyak pestisida tidak mengenai sasaran;
6.       Jangan menyemprot melawan arah angin karena bisa mengenai orang yang menyemprot
7.       Penyemprotan yang dilakukan saat hujan akan membuang tenaga dan biaya sia-sia;
8.       Jangan makan, minum dan merokok pada saat menyemprot;
9.       Alat semprot harus segera dibersihkan setelah digunakan. Air bekas cucian jangan dibuang ke sungai atau sumber air lainya;
10.   Segera mandi dengan bersih menggunakan sabun dan pakaian yang digunakan segera cuci.

Jika terjadi keracunan pestisida dengan gejala tubuh terasa kurang enak, misalnya pusing, mual, kulit panas, gatal, mata berkunang-kunang segera hentikan kegiatan menyemprot. Juga apabila beberapa jam setelah menyemprot pestisida tubuh terasa lemas, sulit tidur, gangguan perut, berkeringat tidak wajar, gugup dan sebagainya. Langkah-langkah yang diambil yaitu:
1.       Bila pestisida masuk mulut dan penderita sadar;
a.     Muntahkan penderita dengan mengorek dinding belakang tenggorokan dengan jari atau alat lain yang bersih atau memberi air hangat yang dicampur 1 sendok makan garam. Pemuntahan dilakukan secara terus menerus sampai keluar cairan jernih. Usahakan muntahan tidak masuk ke paru-paru dengan cara posisi kepala lebih rendah dan menghadap ke bawah;
b.      Jangan beri susu atau minuman dan makan yang berlemak bila teracuni golongan klorhidrokarbon;
c.      Beri susu atau putih telur dalam air bila tertelan bahan korosif. Bila keduanya tidak ada dapat diberi air putih;
d.   Bila penderita kejang jangan dilakukan pemuntahan. Baringkan dan beri bantal di bawah kepala penderita. Buka kancing baju di sekitar leher agar pernapasan lancar.

2.       Bila pestisida terhisap
a.       Bawa ke tempat terbuka dan berudara segar bila penderita mengisap debu, bubuk, uap atau butiran-butiran semprotan;
b.      Longgarkan pakaian dan baringkan dengan dagu terangkat agar bernafas bebas;
c.       Gerakan tangannya naik turun agar penderita bisa menghirup udara segar secara maksimal;
d.      Hubungi segera petugas kesehatan.

3.       Bila mengenai mata;
Segera cuci mata dengan air bersih yang banyak secara terus menerus selama 15 menit. Tutup mata dengan kapas bersih.

4.       Bila tertelan dan penderita tidak sadar;
a.   Usahakan saluran pernapasan tidak tersumbat. Bersihkan hidung dari lendir atau muntahan dan bersihkan mulut dan air liur, lendir, sisa makanan dan lepaskan gigi palsu jika ada;
b.      Baringkan penderita dengan posisi tengkurap dan kepala menghadap ke samping;
c.      Bila penderita berhenti bernapas lakukan pernapasan buatan, namun bukan pernapasan dari mulut ke mulut agar penolong tidak ikut keracunan;
d.      Bawa ke balai pengobatan terdekat.

5.       Bila penderita kejang;
      Longgarkan pakaian di sekitar leher, taruh bantal di bawah kepala, lepaskan gigi palsu jika ada. Berikan ganjal antara gigi agar lidah dan bibir tidak tergigit.

6.       Bila mengenai kulit.
a.       Bersihkan kulit yang terkena dengan air mengalir dan sabun sampai bersih;
b.      Jangan oleskan bahan apapun ke kulit yang terkena, terlebih yang mengandung minyak.


Penggunaan pestisida nabati lebih dianjurkan karena lebih ramah lingkungan dan aman.





Dari berbagai sumber

Jumat, 29 Januari 2021

PENGENDALIAN PENYAKIT TANAMAN MELON

Halo para pembaca blog ini dimanapun anda berada... semoga sehat selalu dimasa pandemi Covid 19 ini...

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan pertanyaan dari petani tentang bagaimana cara mengendalikan penyakit tanaman melon yang dibudidayakan olehnya. Sekalian saja saya bagikan juga bagi pembaca blog saya. Saya berharap pembaca dapat terbantu dalam mengidentifikasikan dan menentukan tindakan pengendalian penyakit tanaman melon.

Penyakit tanaman melon sangat merugikan jika tidak segera dikendalikan karena dapat menurunkan kualitas dan kuantitas panen atau bahkan dapat menyebabkan kegagalan panen. Biasanya penyakit banyak menyerang dikala musim hujan. Berikut ini beberapa jenis penyakit penting yang menyerang tanaman melon.


A. LAYU BAKTERI (Bacterial Wilt)

Disebabkan oleh bakteri Erwinia eracheiphila E.F.Sm. Penyakit ini penyebarannya dengan perantara dari hama kumbang oteng - oteng (Aulacophora femoralis Motschulsky) yang juga menyerang tanaman melon.

Gejalanya ditandai daun layu satu persatu, meskipun warna daun tetap hijau  yang pada akhirnya tanaman layu secara keseluruhan dan permanen. Jika pangkal batangnya dipotong melintang maka akan mengeluarkan lendir putih kental dan lengket bahkan dapat ditarik seperti benang.

Cara pengendalian:

  • Tindakan preventif (pencegahan) dengan perlakuan benih yaitu merendam benih dalam larutan bakterisida seperti Agrimycin atau Agrept dengan konsentrasi 1,2 gr/l. Penyemprotan bakterisida tersebut juga dapat dilakukan pada tanaman umur 20 hari setelah tanam (HST)
  • Pengaturan drainase terutama pada saat musim hujan agar air tidak tergenang diantara bedengan
  • Bersihkan gulma agar tidak lembab
  • Sebelum ditanami lahan dapat distrerilkan dengan Basamid G dengan dosis 40 gram/ M2
  • Tanaman yang terinfeksi dicabut dan dimusnahkan


B. EMBUN BULU (Downy mildew)  

Disebabkan oleh cendawan Pseudoperenospora cubensis (Berkely et Curtis) Rostowzew. 

Gejalanya dimulai dengan adanya bercak - bercak berwarna kuning muda yang dibatasi oleh urat - urat daun sehingga terkesan menjadi bercak bersudut. Semakin lama bercak tersebut berubah menjadi warna kecoklatan. Bagian bawah daun terlihat kumpulan cendawan berwarna kelabu.

Cara pengendalian:

  • Lokasi tanaman dipilih yang bukan bekas dan jauh dari tanaman timun
  • Tanaman yang terinfeksi parah dicabut dan dibakar agar tidak menular ke tanaman yang sehat
  • Penyemprotan fungsida seperti Previcur N dengan konsentrasi 2 - 2 ml/l apabila serangan sudah di atas ambang ekonomi. 

C. Layu Fusarium   

Disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum f. sp. melonis Snyd. et Hans 

Gejalanya :

  • Pada fase pembibitan menyebabkan bibit gagal muncul di permukaan tanah karena mati sebelum bibit muncul. Apabila dapat tumbuh maka bibitnya kerdil
  • Pada tanaman yang sudah dipindahkan ke kebun, gejala terlihat dimana tanaman yang tampak segar dipagi hari dan layu pada siang hari, kemudian segar kembali pada sore hari. Gejala ini berlangsung selama beberapa hari hingga akhirnya mati. 
  • Jika diamati pada batang terdapat goresan dan mempunyai massa spora cendawan berwarna merah jambu. Apabila batang dibelah tampak berwarna coklat
Cara pengendalian:
  • Lahan sebaiknya lahan baru dan belum pernah ditanami melon, semangka, labu, timun yang terserang penyakit yang sama
  • Lakukan pergiliran varietas melon yang ditanam. Gunakan varietas yang tahan terhadap cendawan Fusarium oxysporum
  • Pengapuran lahan 3  minggu sebelum tanam agar pH tanah netral karena patogen jamur ini berkembangbiak pada kondisi masam dengan pH 4,5 - 5,8. Hindari pemupukan nitrogen (Urea atau ZA) yang berlebihan
  • Perlakuan benih dengan menggunakan fungisida Derosol 500 SC dengan konsentrasi 1,0 ml/l
  • Pengaturan drainase terutama pada saat musim hujan agar air tidak tergenang diantara bedengan
  • Penggunaan mulsa plastik agar tidak terlalu lembab
  • Melakukan rotasi tanaman 
  • Aplikasikan trichoderma pada lahan. 
  • Sebagai pencegahan sejak tanaman mulai berbunga setiap 14 hari sekali tanaman disiram dengan fungisida  Derosol 500 SC dengan konsentrasi 1,5 ml/l kemudian disiram sebanyak 250 ml per tanaman
  • Tanaman yang terinfeksi dicabut dan dimusnahkan

D. EMBUN TEPUNG (powdery Mildew)  

Disebabkan oleh cendawan Erysiphe cicoracearum DC. ex. Merat. Penyakit ini menurunkan kadar gula, aroma buah dan gagalnya pembentukan jaring pada buah melon karena proses fotosintesis terhambat. 

Gejalanya : terdapat bercak - bercak bulat putih pada sisi bawah daun yang makin lama bercak tersebut akan menyatu dan akhirnya menutupi permukaan daun seolah - olah daun dilapisi tepung putih. Jika menyerang seluruh daun dan batang maka akan menjadi berwarna  coklat dan mengkerut. Tanaman pertumbuhannya terhambat tampak lemah dan kerdil.


Cara pengendalian:

  • Lokasi tanaman dipilih yang bukan bekas dan jauh dari tanaman timun dan labu
  • Daun yang terserang parah harus dirompes dan dimusnahkan dengan cara dibakar
  • Penyemprotan fungisida Calixin 750 EC atau Afugan 300 EC (pyrazophos) dengan konsentrasi 1 ml/l atau juga dapat dengan fungsida lainnya yang berbahan aktif pradimefon, oksitioquinoks, benomyl dan tembaga.

 

E. BUSUK BUAH   

Penyakit ini menyerang batang, daun dan buah

Gejalanya :

  • Serangan pada batang ditandai bercak coklat kebasahan yang memanjang. Serangan yang serius menyebabkan tanaman mati layu
  • Daun yang terserang seperti tersiram air panas kemudian meluas
  • Serangan pada buah ditandai dengan bercak kebasahan yang menjadi coklat kehitaman dan lunak. Makin lama bercak akan berkerut dan mengendap. Pada buah yang busuk  diselimuti kumpulan cendawan putih
Cara pengendalian:
  • Kurangi kelembaban dengan cara memangkas dan cabang yang berlebihan
  • Dilakukan rotasi tanaman dengan tanaman yang bukan sefamili melon
  • Penyemprotan fungsida seperti Previcur N dengan konsentrasi 2 - 3 ml/l diselingi dengan fungisida kontak seperti Trineb, Sandofan MZ Vondozeb dengan konsentrasi 2,5 gr/l.

Demikian bagaimana cara mengendalikan penyakit tanaman melon ini... semoga bermanfaat bagi petani yang mempunyai usaha budidaya melon.


Sumber:
Ir. Final Prajnanta. 1997. Melon. Pemeliharaan Secara Intensif. Kiat Sukses Beragribisnis. Penebar Swadaya.  

Rabu, 10 Januari 2018

Penyakit Virus kuning (Gemini Virus) Pada Tanaman Cabe


       Selain cabai virus ini juga mampu menyerang tanaman tomat, buncis, gula bit, babadotan, atau tanaman pertanian yang lain. Penyakit ini disebabkan oleh virus gemini dengan diameter partikel isometri berukuran 18–22 nm. Virus gemini mempunyai genome sirkular DNA tunggal. Virus dapat ditularkan melalui penyambungan dan melalui vektor Kutu Kebul (Bemisia tabaci).

Gejala serangan :
  •  Helai dimulai dari daun pucuk berkembang menjadi warna kuning jelas, tulang daun menebal dan daun menggulung ke atas.
  • Infeksi lanjut dari gemini virus menyebabkan daun mengecil dan berwarna kuning terang, tanaman kerdil dan tidak berbuah. Keberadaan penyakit ini sangat merugikan karena mampu mempengaruhi produksi buah.

 Pengendalian :
  • Mengendalikan serangga vektor virus kuning yaitu kutu kebul (Bemisia tabaci) dengan menggunakan musuh alami predator seperti Menochilus sexmaculatus atau jamur patogen serangga seperti Beauveria bassiana atau Verticillium lecani.Melakukan sanitasi lingkungan terutama tanaman inang seperti ciplukan, terong, gulma bunga 
  • Pemupukan tambahan untuk meningkatkan daya tahan tanaman sehingga tanaman tetap berproduksi walaupun terserang virus 
  • Kultur teknik yang meliputi : perendaman benih, penggunaan mulsa plastik (untuk menekan gulma inang, populasi vektor, menunda perkembangan 
  • Penanaman tanaman pembatas untuk mengelilingi kebun cabe seperti tanaman jagung.


Minggu, 24 September 2017

PENGENDALIAN PENYAKIT KRESEK DAN HAWAR DAUN BAKTERI PADA TANAMAN PADI

Penyakit hawar daun bakteri merupakan salah satu penyakit utama tanaman padi.  Penyakit disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo).  Patogen ini dapat menginfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman dari mulai pesemaian sampai menjelang panen. 

Penyebab penyakit (patogen) menginfeksi tanaman padi melalui hidatoda pada tepi daun, luka pada daun, akar yang putus  atau lobang alami berupa stomata dan merusak klorofil daun. Hal tersebut menyebabkan menurunnya kemampuan tanaman untuk melakukan fotosintesis yang apabila terjadi pada tanaman muda mengakibatkan mati dan pada tanaman fase generatif mengakibatkan pengisian gabah menjadi kurang sempurna.

SUMBER DAN PENYEBARAN PENULARAN 
Sumber penularan bakteri ini adalah benih, jerami, anakan padi yang terinfeksi dan gulma yang menjadi inang.

Penyebarannya melalui angin kencang, embun, air hujan dan air irigasi. Pada awal pagi hari terdapat lendir yang kemudian mengeras menjadi butiran kecil pada permukaan daun yang terinfeksi.Permukaan daun yang lembab melarutkan butiran - butiran tersebut sehingga sel - sel bakteri dapat menyebar dengan bebas.


FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN PENYAKIT 

  1. Faktor lingkungan; Yang sangat berpengaruh terutama adalah kelembaban yang tinggi sangat memacu perkembangan penyakit ini. Oleh karena itu penyakit hawar daun bakteri sering timbul terutama pada musim hujan. Penggenangan sawah yang terus menerus juga dapat memicu perkembangannya.
  2. Pemupukan yang tidak berimbang; Pertanaman yang dipupuk Nitrogen dengan dosis tinggi tanpa diimbangi dengan pupuk Kalium menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan terhadap penyakit hawar daun bakteri.


GEJALA DAN DAMPAK PENYAKIT 

  1. GEJALA KRESEK; Terjadi bila serangan terjadi pada awal pertumbuhan, tanaman menjadi layu dan mati. Infeksi sistematik pada bibit dapat mengakibatkan seluruh daun atau tanaman mejadi layu kering.
  2. GEJALA HAWAR (BLIGHT); Terjadi bila serangan pada tanaman dewasa.
  3. Baik gejala kresek maupun hawar, gejala dimulai dari tepi daun mula - mula bernoda
    seperti garis -garis basah yang kemudian meluas dan berwarna keabu-abuan dan lama-lama daun menjadi kering. Kematian  jaringan daun ini dimulai pada satu atau kedua tepi helai daun, selanjutnya meluas keseluruh permukaan daun. Pada varietas yang rentan, kematian dapat terjadi sampai pelepah daun, apalagi jika tanaman dipupuk dengan N  dengan dosis tinggi. Bila serangan terjadi saat berbunga, proses pengisian gabah menjadi tidak sempurna, menyebabkan gabah tidak terisi penuh atau bahkan hampa. Pada kondisi seperti ini kehilangan hasil mencapai 50-70 persen.
                            



PENGENDALIAN PENYAKIT 
Pengendalian akan lebih berhasil jika dilakukan secara terpadu (PHT) yaitu dengan menggabungkan beberapa cara berikut ini.
  1. Menanam varietas padi yang tahan. Ini merupakan  cara yang paling efektif, murah dan ramah lingkungan. Namun teknologi ini dihambat oleh adanya kemampuan bakteri patogen membentuk patotipe (strain) baru yang lebih virulen yang menyebabkan ketahanan varietas tidak mampu bertahan lama. Adanya kemampuan pathogen bakteri Xoo membentuk patotipe baru yang lebih virulen juga menyebabkan pergeseran dominasi patotipe pathogen ini terjadi dari waktu ke waktu. Hal ini menyebabkab varietas tahan disuatu saat tetapi rentan di saat yang lain dan tahan di suatu wilayah tetapi rentan di wilayah lain. Sehubungan dengan sifat -sifat yang demikian ini maka pemantauan dominasi dan komposisi patotipe bakteri Xoo di suatu ekosistem padi (spatial dan temporal) menjadi sangat diperlukan sebagai dasar penentuan penanaman varietas tahan di suatu wilayah. Peta penyebaran patotipe dapat digunakan sebagai dasar penentuan penanaman suatu varietas disuatu wilayah berdasarkan kesesuaian sifat tahan varietas terhadap patotipe yang ada di wilayah tersebut. Mengingat tahan terhadap patotipe tertentu bisa jadi tidak tahan (rentan) terhadap patotipe yang lain. Pada daerah yang dominan HDB patotipe III disarankan menanam varietas yang tahan terhadap patotipe III, daerah dominan patotipe IV disarankan menanam varietas tahan patotipe IV dan dominan patotipe VIII disarankan menanam varietas tahan patotipe VIII .
  2. Gunakan benih dan bibit sehat yang bebas dari patogen penyakit; Karena penyakit ini dapat menginfeksi gabah, maka hati - hati dalam memilih benih. Sangat tidak dianjurkan menanam benih yang sudah terinfeksi. Ini perlu ditekankan sebagai syarat untuk kelulusan uji sertifikasi benih. Bibit yang sudah menunjukan gejala kresek sebaiknya tidak ditanam.
  3. Cara Tanam; Sistem legowo sangat dianjurkan karena pertanaman tidak terlalu lembab dan sirkulasi udara lebih lancar. Jarak tanam juga tidak boleh terlalu rapat. Jarak tanam yang rapat selain menguntungkan bagi perkembangan patogen, juga mempermudah infeksi dan penularan antar tanaman. Jika air dapat diatur, maka dilakukan pengairan berselang (intermiten). Sistem tersebut akan mengurangi kelembaban disekitar kanopi pertanaman, mengurangi terjadinya embun dan air gutasi dan gesekan daun antar tanaman sebagai media penularan pathogen. 
  4. Pemupukan; Gunakan pupuk secara berimbang. Pupuk Nitrogen berkorelasi positif dengan keparahan penyakit HDB. Artinya pertanaman yang dipupuk Nitrogen dengan dosis tinggi menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan dan keparahan penyakit lebih tinggi. Jadi jangan memupuk N dalam dosis yang tinggi. Pupuk Kalium (K) dapat meningkatkan ketahanan terhadap penyakit ini.
  5. Sanitasi dan Pengomposan Jerami; Musnahkan sisa jerami, gulma dan inang lain yang berpenyakit karena patogen dapat bertahan. Jerami padi lebih baik dibuat kompos terlebih dahulu sebelum dikembalikan ke lahan sawah, karena patogen yang terdapat dalam jerami akan mati akibat panas yang dihasilkan dalam proses dekomposisi jerami menjadi kompos .
  6. Cara Kimiawi Dengan Menggunakan Bakterisida. 


Sumber:

Ir. Idham Sakti Harahap,M.S dan DR. Budi Tjahjono, M.Agr. Seri Agritekno. Pengendalian Hama Penyakit Padi. Penebar Swadaya.
http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita/info-teknologi/content/45-pengendalian-penyakit-kresek-dan-hawar-daun-bakteri


Minggu, 03 September 2017

PENGENDALIAN PENYAKIT BLAS PADA TANAMAN PADI

Penyakit blas sangat merugikan petani. Musim Tanam Rendengan lalu di desa wilayah kerja saya, banyak tanaman padi terserang penyakit ini yang dicurigai tertular dari benih yang didatangkan dari luar daerah. Karena di daerah saya baru pertama kali ini terjadi serangan penyakit blas ini, sehingga banyak petani yang tidak siap dan belum mengenali tentang penyakit tersebut serta terlambat dalam pengamatan yang menyebabkan kerugian cukup besar. 

Penyakit blas disebabkan oleh cendawan Pyricularia oryzae (Pyricularia grisea). Padi yang rentan terserang penyakit ini jika:
  • Kondisi periode embun yang panjang;
  • Kelembaban yang tinggi dan temperatur malam hari berkisar 22 - 25°C;
  • Jarak tanam terlalu rapat sehingga kelembaban di sekitar tanaman menjadi tinggi dan suhu menjadi rendah serta aerasi yang tidak baik;
  • Tanaman yang dipupuk Nitrogen (N) terlalu berlebihan. Pengaruh N berlebihan ini terhadap sel epidermis menyebabkan peningkatan permeabelitas dinding sel dan menurunnya kadar unsur silika (Si) sehingga jamur lebih mudah melakukan penetrasi;
  • Menanam varietas yang tidak tahan/rentan blas;
  • Tanah dalam kondisi aerobik dan stres kekeringan.

BIOLOGI DAN EKOLOGI PENYAKIT BLAS
Cendawan ini mempunyai banyak ras, yang mudah berubah dan membentuk ras baru dengan cepat. 

Pada kondisi lingkungan yang mendukung, 1 siklus penyakit blas membutuhkan waktu kurang lebih 1 minggu, yaitu dimulai ketika spora jamur menginfeksi dan menghasilkan suatu bercak pada tanaman padi dan berakhir ketika cendawan bersporulasi (menghasilkan spora baru) yang siap ditebarkan ke udara. Dari 1 bercak dapat menghasilkan ratusan bahkan ribuan spora dalam satu malam dan dapat terus menghasilkan spora selama 20 hari.

Penyebaran spora dapat terjadi melalui benih dan angin. Sumber inokulum primer penyakit blas di lapangan adalah jerami (sebaiknya jerami dikomposkan sehingga tidak menjadi sumber penyakit), inang lain seperti rumput dan terutama padi - padian (famili Graminae) yang terinfeksi dapat menjadi sumber penularan bagi musim tanam padi berikutnya.

GEJALA PENYAKIT BLAS
Penyakit blas dapat menyerang baik pada persemaian, dipertanaman pada fase vegetatif maupun fase generatif menjelang panen.

  • Blas Daun; Cendawan ini menginfeksi bagian daun dan pelepah daun dengan gejala bercak - bercak berbentuk belah ketupat. Warna bercak coklat dan pusat bercak berwarna kelabu agak keputih-putihan. Ukuran bercak bervariasi tergantung kondisi lingkungan, umur bercak dan kerentanan tanaman. Bila penyakit terjadi pada tanaman yang rentan dan kondisi lingkungannya lembab, maka bercak - bercak dapat meluas dan bersatu sehingga dapat mengakibatkan rusaknya sebagian besar daun.
  • Blas Leher; biasa juga disebut busuk leher, patah leher, tekek (jawa tengah), kecekik
    (jawa barat) dan di daerah saya petaninya menyebut potong leher. Gejalanya tangkai malai membusuk dan patah. Bila infeksi terjadi sebelum masa pengisian bulir padi, maka menyebabkan bulir hampa. Infeksi parah dapat mencapai bagian gabah dan patogennya dapat terbawa gabah sebagai patogen tular benih (seed borne). Sehingga gabah tidak boleh lagi dijadi benih. Penyakit blas leher sangat merugikan karena dapat menurunkan hasil bahkan bisa terjadi puso.

Serangan Berat Blas Leher 

PENGENDALIAN PENYAKIT BLAS
Pengendalian akan lebih berhasil jika dilakukan secara terpadu (PHT) yaitu dengan menggabungkan beberapa cara berikut ini.
  1. Menanam varietas padi yang tahan. Ini merupakan  cara yang paling efektif, murah dan ramah lingkungan. Penggunaan varietas yang tahan dapat disesuaikan  dengan sebaran ras yang ada disuatu daerah. Beberapa varietas yang tahan terhadap beberapa ras patogen penyakit blas antara lain Inpari 21, Inpari 22, Inpari 26, Inpari 27, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago 7, Inpago 8. Penggunaan varietas tahan pada daerah endimik blas jangan ditanam secara terus menerus dan monogenik (1 atau 2 varietas) secara luas. Harus dilakukan pergiliran varietas. Beberapa varietas yang berbeda tingkat ketahanannya ditanam di suatu areal, dapat mengurangi tekanan seleksi terhadap patogen, sehingga dapat memperlambat terjadinya ras baru patogen dan patahnya ketahanan suatu ras.
  2. Gunakan benih sehat yang bebas dari patogen Blas; Karena blas dapat menginfeksi gabah, maka hati - hati dalam memilih benih. Sangat tidak dianjurkan menanam benih yang sudah terinfeksi. Ini perlu ditekankan sebagai syarat untuk kelulusan uji sertifikasi benih. Perlakuan benih juga diperlukan untuk menghindari penyakit yaitu dengan cara melakukan perendaman benih (soaking) atau pelapisan benih (coating) dengan fungisida anjuran seperti fungisida sistemik trisiklazole dengan dosis formulasi 3 - 5 gram/kg benih. Cara soaking yaitu dengan merendam benih selama 24 jam. Selama periode rendaman, larutan yang digunakan diaduk merata setiap 6 jam. Perbandingan berat biji dengan volume air 1:2 (1 kg benih direndam dalam 2 liter larutan fungisida). Setelah 24 jam, benih ditiris dan dikering anginkan dalam suhu kamar di atas kertas koran dan dibiarkan sampai saatnya gabah disemai. Soaking ini dilakukan sebelum pemeraman benih. Cara coating yaitu benih direndam dalam air selama beberapa jam. Kemudian tiriskan hingga air tidak menetes lagi. Fungsida dengan dosis tertentu dicampur dengan 1 kg benih yang sudah ditiriskan dan dikocok merata. Kemudian benih dikeringkan dengan cara yang sama seperti cara soaking. Benih siap disemai.
  3. Cara Tanam; Sistem legowo sangat dianjurkan karena pertanaman tidak terlalu lembab dan sirkulasi udara lebih lancar. Jarak tanam juga tidak boleh terlalu rapat. Jarak tanam yang rapat selain menguntungkan bagi perkembangan patogen, juga mempermudah infeksi dan penularan antar tanaman. Jika air dapat diatur, maka dilakukan pengairan berselang (intermiten). 
  4. Pemupukan; Gunakan pupuk secara berimbang. Jangan memupuk N dalam dosis yang tinggi seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pupuk Kalium (K) dapat meningkatkan ketahanan terhadap penyakit blas.
  5. Sanitasi dan Pengomposan Jerami; Musnahkan sisa jerami dan inang lain yang berpenyakit karena patogen dapat bertahan. Jerami padi lebih baik dibuat kompos terlebih dahulu sebelum dikembalikan ke lahan sawah, karena patogen yang terdapat dalam jerami akan mati akibat panas yang dihasilkan dalam proses dekomposisi jerami menjadi kompos .
  6. Cara Kimiawi Dengan Menggunakan Fungisida;  Perlakuan benih hanya bertahan selama 6 minggu, selanjutnya perlu dilakukan penyemprotan fungisida pada tanaman. Hasil percobaan terhadap beberapa fungisida menunjukan bahwa fungisida Benomyl 50WP, Mancozeb 80%, Carbendazim 50%, isoprotiolan 40%, dan trisikazole 20% efektif menekan perkembangan cendawan  Pyricularia oryzae (Pyricularia grisea). Penyemprotan sebaiknya dilakukan 2 kali yaitu saat stadia tanaman padi anakan maksimum dan awal berbunga.
       Tabel. Fungisida Untuk Pengendalian Penyakit Blas 
Bahan Aktif
Nama Dagang
Dosis Formulasi /aplikasi
Volume Semprot 
/ha
Isoprotiolan
Fujiwan 400 EC
1 lt
400-500 lt
Trisiklazole
Dennis 75WP, Blas 200SC, Filia 252 SE
1 lt / kg
400-500 lt
Kasugamycin
Kasumiron 25 WP
1 kg
400-500 lt
Thiophanate methyl
Tyopsin 70WP
1 kg
400-500 lt


Secara ringkas tindakan pengendalian yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
  1. Gunakan varietas tahan sesuai dengan sebaran ras yang ada di daerah setempat;
  2. Gunakan benih sehat;
  3. Pengendalian secara dini dengan perlakuan benih sangat dianjurkan untuk menyelamatkan persemaian sampai umur 30 hari setelah sebar;
  4. Jerami dibuat kompos agar patogen blas mati;
  5. Hindari tanam padi terlambat dari tanaman petani di sekitarnya (tanam serempak);
  6. Hindarkan jarak tanam rapat dan gunakanlah sistem jajar legowo;
  7. Hindarkan penggunaan pupuk N diatas dosis anjuran dan pemberian pupuk K;
  8. Hindarkan tanam padi dengan varietas yang sama terus menerus sepanjang tahun;
  9. Sanitasi lingkungan harus intensif karena inang alternatif patogen dapat berupa rerumputan dan sisa jerami yang tidak dikomposkan;
  10. Penyemprotan fungisida sistemik sebaiknya 2 kali pada saat stadia tanaman anakan maksimum dan awal berbunga untuk mencegah penyakit blas daun dan blas leher terutama di daerah endemik.

Sumber:
Ir. Idham Sakti Harahap,M.S dan DR. Budi Tjahjono, M.Agr. Seri Agritekno. Pengendalian Hama Penyakit Padi. Penebar Swadaya.
http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita/info-teknologi/content/240-penyakit-blas-pada-tanaman-padi-dan-cara-pengendaliannya