Senin, 30 November 2020

ECO ENZYME: CARA MEMBUAT DAN MANFAATNYA DI BIDANG PERTANIAN

 

MENGENAL ECO ENZYME (EE)


ECO ENZYME (EE) pertama kali ditemukan dan dikembangkan di negara Thailand oleh  Dr. Rosukan Poompanvong pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand yang aktif pada riset mengenai enzim selama lebih dari 30 tahun.  Atas penemuannya tersebut menerima penghargaan dari FAO PBB.

 

Adalah Dr. Joean OonDirector of the Centre for Naturopathy and Protection of Families in Penang (Malaysia), kemudian membantu untuk menyebar luaskan segudang manfaat dari Eco-enzyme ini.

EE merupakan larutan zat organik kompleks yang diproduksi dari proses fermentasi sisa organik, gula, dan air. Cairan EE ini berwarna coklat gelap (bisa juga berwarna merah dan kuning tergantung bahan pembuatnya yang dominan) dan memiliki aroma yang asam/segar yang kuat. Uniknya jika dibuat dari bahan organik yang memiliki aroma wangi seperti kulit jeruk, nanas, bunga yang wangi, daun pandan dll maka aroma wanginya akan tercium dengan jelas.

 

Prinsip proses pembuatan EE ini sendiri sebenarnya agak mirip dengan proses pembuatan POC lainnya. Keistimewaan EE dibanding  POC biasa,  seperti yang sudah dijelaskan diatas memiliki bau aroma yang wangi segar dan memiliki manfaat multi fungsi. Berikut ini adalah alasan lain kenapa kita perlu mempertimbangkan untuk membuat EE  :

 

1.       Mengurangi sampah rumah tangga

EE dibuat dengan memanfaatkan sampah organik disekitar kita sehingga mengurangi beban TPA. DAripada hanya terbuang secara percuma, maka tidak ada salahnya menjadikan sisa-sisa buah atau sayuran di dapur menjadi EE  yang banyak manfaatnya.Dengan membuat Eco-Enzyme, kita telah berpartisipasi menyelamatkan bumi dengan mengurangi beban Bumi sekaligus menerapkan gaya hidup minim kimia sintetis untuk membantu melestarikan lingkungan dan gaya hidup sehat

 

2.       Hemat

Mengubah sampah dapur menjadi pembersih rumah tangga alami, pupuk, pestisida sehingga dapat menghemat uang.

 

3.       Mengurangi polusi 

Gas metana yang dikeluarkan dari proses pembusukan sampah yang dibuang dapat memerangkap 21x lebih banyak panas daripada CO2, memperburuk pemanasan global

 

4.       Air purify 

Membersihkan udara dari racun, polusi dan menghilangkan bau, sehingga dapat meningkatkan kualitas udara yang kita hirup

 

 

5.        Meningkatkan kualitas air

Membersihkan air yang tercemar dimana menurut Dr. Joean Oon,  1 liter cairan eco enzyme dapat membersihkan sungai yang tercemar sampai 1000 liter

 

6.        Meningkatkan kualitas tanah

Dengan menyemprotkan ke tanah dapat memperbaiki kesuburannya dan meminimalisir residu kimia akibat praktek-praktek pemanfaatan lahan yang tidak ramah lingkungan

 

7.        Banyak manfaatnya

Dapat digunakan sebagai pembersih rumah tangga, insektisida, antiseptik, perawatan tubuh, pupuk dll

 

 

Adapun manfaat EE di bidang pertanian adalah sebagai berikut:

1.       Sebagai pupuk dan hormon alami tanaman

Menurut DR. Rosukon poompanvong penemu EE, bahwa EE dapat mengubah amonia menjadi nitrat (N03), hormon alami dan nutrisi untuk tanaman. Dengan demikian dapat meningkatkan produktivitas.

 

2.       Sebagai pestisida nabati

EE dapat digunakan sebagai pestisida hayati pada tanaman, terlebih jika bahan pembuatannya berupa bahan pestisida nabati seperti serai, lengkuas, daun sirsak dll.

EE juga dapat menjadi alternatif pestisida nabati untuk hama gudang yang memakan gabah.

 

3.       Mengurangi residu kimia pada produk pertanian

EE dapat menurunkan residu kimia yang terkandung dalam sayuran dan buah dengan cara merendamnya dalam larutan EE ( 2 sendok makan + 1 liter air bersih) selama 45 menit.

EE dapat digunakan menyemprot lahan yang tercemar residu kimia dari pupuk dan pestisida kimia.



CARA MEMBUAT ECO ENZYME (EE)

EE sangat mudah dibuat dan tidak memerlukan keterampilan khusus. EE tidak membutuhkan wadah khusus. Botol-botol bekas, jerigen, tong, ember, toples, kantong bekas minyak goreng dan lain - lain  dapat dimanfaatkan kembali sebagai tangki fermentasi eco-enzyme. Hal ini juga mendukung pemanfaatan barang bekas untuk  menyelamatkan lingkungan.

Yang perlu diperhatikan dalam menyiapkan pembuatan EE adalah:

1.   Gunakan wadah wajib berbahan plastik. Jangan menggunakan kaca karena rentan pecah, karena proses fermentasi menghasilkan gas sehingga rentan/mudah pecah

2.      Semua bahan organik dari tumbuhan bisa digunakan, tetapi tidak boleh bahan organik yang  sudah di masak (sayuran/buah yang direbus, digoreng, ditumis dll) serta tidak boleh menggunakan buah/sayuran yang sudah busuk, berjamur/berulat

3.     Bahan organik baik itu sisa sayuran, buahan atau sisa tumbuhan lainnya dalam  1 wadah EE harus menggunakan paling sedikit (minimal) 5 jenis. Semakin banyak jenisnya dalam 1 wadah EE semakin bagus karena semakin kaya enzimnya

4.        Jangan gunakan gula pasir. Gunakan molase atau gula aren, gula kelapa atau gula lainnya

5.    Gunakan air sumur, air buangan AC, air galon isi ulang (jika tujuannya untuk perawatan tubuh), air hujan  yang melalui pipa/genteng dan air PAM diendapkan minimal 24 jam. Pada air PAM bertujuan mengendapkan kaporit

6.      Untuk membuat EE aromatik yang wangi gunakan salah satu bahan organiknya yang wangi seperti kulit jeruk, daun jeruk purut, serai biasa dan serai wangi, bunga yang wangi, daun pandan, kenikir, kemangi, kulit lengkeng dan lain – lain

7.    Wadah  diletakkan ditempat teduh, tidak terkena sinar matahari, memiliki sirkulasi udara yang baik, jauh dari Wi-Fi, WC, tempat sampah, bahan-bahan kimia.


MEMBUAT EKO ENZIM

Bahan:

Rumus takaran bahan untuk membuat EE sudah baku yaitu 3 : 1 : 10 maksudnya yaitu:

-          Sisa sayuran/buah/tumbuhan lain minimal 5 jenis    :          3 bagian

-          Gula merah                                                                      :    1 bagian

-          Air                                                                                    :    10 Bagian

 

Contohnya jika akan membuat EE dari bahan organik sebanyak 3 kg, maka gula merah yang dibutuhkan adalah sebanyak 1 kg dan air sebanyak 10 liter.

 

Cara Membuat:

  •  Bersihkan wadah dari bahan kimia dan sisa sabun
  • Ukur wadah lalu masukkan air sebanyak 60% dari volume wadah, agar nantinya tersisa rongga udara dalam wadah
  • Masukkan gula yang sudah diiris kemudian remas-remas agar larut
  • Potong atau cacah kecil-kecil buah dan sayuran

Bahan Organik (minimal 5 jenis) Dicacah. Sisakan Rongga Udara Dalam Wadah

  • Tutup rapat wadahnya agar tidak ada udara masuk. Jika tidak rapat dapat membuat EE berbau busuk, berulat dan berjamur hitam.

Wadah Harus Ditutup Rapat. Letakkan Ditempat Teduh


  • Beri label tanggal pembuatan dan tanggal panen agar tidak lupa
  • Selama 1 minggu pertama, buka tutup untuk membuang gas. Jika menggunakan botol, harus membuka tutupnya dari waktu ke waktu. Perlu melonggarkan tutupnya untuk melepaskan gas. Kendurkan perlahan-lahan, maka Anda akan mendengar suara seperti gas/soda. Kemudian tutup rapat kembali.
  • Pada Hari ke 7 aduk atau sambil diremas –remas bahan organiknya. Jika gas  bisa keluar dengan sendirinya dengan memakai selang ataupun balon maka tidak perlu buka tutup.
  • Aduk lagi di hari ke 30, jangan lupa tutup rapat kembali



Aduk Lagi Pada Umur 30 Hari. Tutup Rapat Kembali

  • Pada hari ke 90 EE dapat dipanen. Pisahkan cairan dengan ampasnya. Ampas jangan dibuang Karena masih dapat dimanfaatkan lagi untuk kompos atau di haluskan menggunakan blender untuk dituangkan ke WC.
  • Cairan EE yang sudah dipanen dapat disimpan dalam botol, toples atau jerigen dalam kondisi tertutup rapat
  • Simpan EE jika tidak digunakan simpan ditempat didalam ruangan
  • EE yang disimpan dan belun digunakan tahan selama bertahun-tahun bahkan 10 atau 20 tahun. Semakin lama periode penyimpanan, semakin kecil molekulnya, karena campuran terus berfermentasi dan terurai. Ketika molekul semakin kecil, itu akan memiliki penetrasi yang lebih baik.


Cara Aplikasi:

  • EE cocok digunakan pada semua tanaman, baik tanaman padi palawija, hortikultura dan perkebunan
  • Jika digunakan sebagai pupuk organik dosisnya tidak boleh banyak. Jika terlampau banyak akan menyebabkan tanaman terbakar hati-hati jika tidak ingin tanaman mati akibat kadar asamnya yang tinggi. Tetapi dengan dosis yang tepat dapat menyuburkan tanaman dan meningkatkan hasil panen
  • EE sebelum digunakan harus diencerkan terlebih dahulu dengan air. Untuk dosisnya sebagai berikut:

Ø   Sebagai pupuk tanaman: 1 : 1.000 (1 cc EE  + 1 liter air). Cara pemberiannya dapat disemprotkan ke tanaman ataupun ke lahan atau media tanam setiap 7 hari sekali. Pemberian dilakukan pada sore hari.

 

Ø   Sebagai Pestisida: 1 : 1000. Disemprotkan pada pagi atau sore hari



Ayo sayangi bumi dengan membuat eco enzyme...





Sumber:

Eco Enzyme Nusantara. Bersama Kita Bisa. Modul Belajar Eco Enzyme


https://maitreyawira.ac.id/content/pendidikan/78-eco-enzyme-dan-pencapaiannya-yang-luar-biasa-dalam-bidang-pertanian-


https://www.agronasa.com/apa-itu-eco-enzyme/


https://www.usu.ac.id/id/2422-eco-enzyme-sebagai-pupuk-organik-cair-tingkatkan-produksi-padi-organik-dan-desinfektan.html


https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/eco-enzyme/#:~:text=Apa%20itu%20Eco%20Enzyme%3F,tong%20sampah%20sebagai%20pembersih%20organik.



Jumat, 06 November 2020

KERACUNAN BESI (Fe) PADA TANAMAN PADI

 Besi (Fe) merupakan salah satu unsur hara esensial  mikro dimana dibutuhkan dalam jumlah kecil bagi semua tanaman. Besi (Fe) mempunyai peranan penting dalam proses biologi seperti fotosintesis, pengembangan kloroplas, dan biosintesa protein. Namun zat besi ini tidak boleh berlebihan atau kekurangan karena sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman.

Menurut Prof. Dr. Masganti dalam Webinar Intensifikasi Pertanian Berkelanjutan Dalam Budidaya Padi di Lahan Rawa, keracunan zat besi ini bisa membuat tanaman padi pertumbuhannya terhambat sehingga menurunkan produktivitasnya antara 30% sampai 90 persen. Semua itu tergantung pada kualitas ketahanan varietas padi tersebut, fase keracunannya hingga usia dari pertanaman.

Keracunan besi paling tinggi terjadi pada musim kemarau karena terjadi pemasaman air yang tinggi sebagai akibat dari reduksi air yang rendah dan remineralisasi kandungan fe karena oksidasi yang rendah.

 

Penyebab Keracunan Besi (Fe)

Penyebab padi keracunan besi karena beberapa faktor yaitu:

  •  Keracunan besi ini terjadi di lahan sawah maupun lahan rawa yang biasanya terjadi pada tanah masam (pH rendah) sehingga kekurangan atau terjadi ketidakseimbangan unsur hara dalam tanah
  • Kandungan konsentrasi zat besi tersebut di dalam tanah yang tinggi
  • Sistem pembuangan air (drainase) yang jelek
  •  Kandungan karbon organik (pupuk organik) yang diberikan ke lahan  belum matang


Gejala Keracunan Besi (Fe)

  • Gejala keracunan besi ini nampak setelah 3-4 minggu setelah tanam dan    8-9 minggu setelah tanam
  • Dimulai dari daun padi yang tua yang memperlihatkan bercak – bercak kecil (titik-tik kecil) warna coklat kemerah-merahan, oranye atau kuning kecoklatan sering disebut bronzing pada semua fase mulai dari tanaman muda hingga berhenti beranak (fase vegetatif) sampai padi mulai bunting  hingga gabah matang (fase generatif). Sistem perakarannya jarang dan sedikit, kasar, pendek dan berwarna coklat gelap atau membusuk.
  • Pada fase vegetatif tanaman yang keracunan dicirikan dengan kering dan tinggi yang tidak normal. Bobot kering tanaman juga menurun dan anakan yang jauh berkurang serta klorofil yang sedikit sehingga penampilan tanaman menjadi jelek.
  • Pada fase generatif  malai berkurang, bobot biji menurun dan kematangan tertunda sehingga pemeliharaan lebih lama dan merugikan petani karena harus mengeluarkan biaya ekstra," jelas Prof. Masganti.



Gejala Keracunan Besi (Fe)


 

Strategi Pencegahan dan Mengatasi  Keracunan Besi (Fe)

  • Ø  Apabila ingin bertanam padi di lahan rawa, lakukan waktu tanam setelah 2 minggu lahan digenangi agar konsentrasi besi (Fe) rendah
  • Ø  Berikan pupuk K,P, Ca tambahan Umumnya keracunan zat besi karena dipicu kekurangan zat hara yaitu kalsium, fosfat dan kalium. pemberian pupuk Kalium harus bertahap dilakukan yaitu pada umur 4 minggu kemudian diulang di umur 7 atau 8 minggu
  • Ø  Cara ameliorasi yaitu upaya pembenahan kesuburan lahan melalui penambahan bahan-bahan tertentu, seperti bahan organik yang sudah matang (kompos/pupuk kandang dll) dan pengapuran. Boleh kombinasi dari keduanya.  Kapur lebih bagus untuk menurunkan kadar Fe di tanah. Campurkan kapur di lapisan tanah atas untuk menaikkan pH tanah
  • Ø  Lakukan drainase tengah musim untuk membuang besi (Fe2+) yang terakumulasi. Di pertengahan pembentukan anakan (25-30 hst/HSS) keluarkan air dari lahan, jangan digenangi namun tetap lembab selama sekitar 7-10 hari untuk memperbaiki pasokan oksigen selama pembentukan anakan.
  • Ø  Sistem Irigasi Berselang (Intermittent). Irigasinya diseling, satu minggu atau dua minggu dimasukkan airnya kemudian dikeringkan.
  • Ø  Buat parit selebar dan sedalam mata cangkul di dalam dan mengelilingi pematang sawah

 

 

Sumber:

https://tabloidsinartani.com/detail//indeks/pangan/13226-Bagaimana-Ciri-Padi-Keracunan-Zat-Besi.

 

https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/tekno-lingkungan/13221-Lakukan-Ini-Hindarkan-Padi-Keracunan-Besi-di-Lahan-Rawa

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 08 Oktober 2020

DAMPAK PENGGUNAAN PUPUK KIMIA ANORGANIK


 DAMPAK PENGGUNAAN PUPUK KIMIA ANORGANIK

Pupuk merupakan salah satu sarana produksi pertanian yang sangat penting dalam keberhasilan produksi pertanian. Pupuk kimia anorganik merupakan pupuk yang paling dominan dipergunakan oleh petani. Penggunaan pupuk kimia anorganik di Indonesia mulai berkembang pesat sejak dicanangkan program Bimbingan Massal (BIMAS) pada tahun 1968 dengan tujuan untuk meningkatkan produksi pertanian. Untuk memenuhi tujuan tersebut diperkenalkan teknologi intensifikasi pertanian yang dikenal dengan istilah Revolusi Hijau. Revolusi hijau ini telah mampu mengubah sikap petani dari anti teknologi menjadi sikap mau memanfaatkan teknologi pertanian modern dimana salah satunya adalah pupuk kimia anorganik.

Sejak diterapkan intensifikasi pertanian tersebut, konsumsi pupuk kimia anorganik berkembang pesat karena varietas-varietas unggul baru yang responsif terhadap pupuk mengharuskan petani menggunakan pupuk kimia anorganik. Demikian juga kebijakan subsidi harganya oleh pemerintah juga merupakan faktor dominan yang ikut berperan dalam meningkatkan penggunaan pupuk kimia anorganik.

Akibatnya penggunaan pupuk organik sejak diterapkannya program intensifikasi pertanian ini mengalami penurunan, terabaikan dan tertinggal.  Dalam kenyataannya, memang revolusi hijau tersebut telah mampu meningkatkan produktivitas, khususnya pada sub sektor pangan. Akan tetapi dengan revolusi hijau yang salah satunya adalah penggunaan pupuk kimia anorganik tersebut telah menimbulkan dampak negatif  yaitu:

1.        Timbulnya degradasi lahan yang cukup besar berupa menurunnya kesuburan dan pemiskinan unsur hara tanah. Menurunnya tingkat kesuburan tanah yang diakibatkan karena adanya gangguan keseimbangan unsur hara dalam tanah. Hasil penelitian yang telah banyak dilakukan oleh berbagai kalangan diketahui bahwa ketidakseimbangan hara dalam tanah menyebabkan fenomena pelandaian produksi (levelling off). Pemupukan N, P dan K dari pupuk kimia anorganik secara terus menerus dalam takaran tinggi diyakini telah menyebabkan ketidak seimbangan hara dalam tanah, menekan unsur hara mikro seperti Cu dan Zn, serta menguras bahan organik tanah yang sangat berperan dalam aktifitas biologi tanah;

2.  Bagi kesehatan manusia kandungan residu kimia yang terserap dalam produk pangan yang membahayakan tubuh manusia;

3.       Tanaman menjadi rentan (tidak tahan) terhadap serangan hama dan penyakit;

4.       Pencemaran lingkungan air dan tanah akibat residu kimia yang ditinggalkan.


Mengutip dari Pusat Penelitian Biologi LIPI bahwa kekhawatiran yang terjadi pada petani Indonesia saat ini adalah kiblat mereka dalam penggunaan pupuk kimia atau non organik.  Bila penggunaan pupuk kimia dibiarkan dalam kurun waktu setidaknya 25 tahun, maka bisa dibayangkan akan terjadi kerusakan pada tanah dan lahan pertanian yang signifikan.


Melihat dampak negatif dari penggunaan pupuk kimia anorganik tersebut, maka ayo mulai beralih menggunakan pupuk organik berbasis lokal dimana menggunakan bahan bahan disekitar kita. Dengan penggunaan pupuk organik yang ramah lingkungan, akan menjamin petani dapat mewujudkan pertanian berkelanjutan (Sustainable Agriculture).  


Jumat, 02 Oktober 2020

BIOCHAR, ARANG PEMBENAH TANAH

Berbicara tentang arang, selama ini sebagian besar orang mengenal arang sebagai bahan bakar untuk membuat sate ya sahabat tani... Tetapi untuk arang sekam sudah dikenal luas untuk media tanam dalam pot. 


APA ITU BIOCHAR??

Biochar adalah arang yang dihasilkan dari limbah biomassa (diutamakan limbah pertanian) melalui pembakaran tidak sempurna atau suplai oksigen terbatas (pyrolysis). Biochar merupakan substansi arang yang berpori (porous), sering juga disebut charcoal atau agri-char.

Biochar dapat ditambahkan ke tanah dengan tujuan untuk meningkatkan kesuburan tanah (sebagai pembenah tanah) dan mengurangi emisi dari biomasa (limbah organik padat/sampah) yang secara alami terurai menjadi gas rumah kaca.

Biochar tidak dapat dikatakan sebagai pupuk organik. Biochar adalah pembenah tanah (soil conditioner). Biochar mempunyai banyak manfaat yang bagus untuk memperbaiki kesuburan tanah. 


MANFAAT BIOCHAR

Adapun manfaatnya adalah sebagai berikut:

  1. Sebagai tambahan bahan organik dalam tanah
  2. Memperbaiki kegemburan tanah
  3. Bersifat alkali, sehingga jika diberikan ke tanah yang bersifat masam maka dapat meningkatkan pH tanah
  4. Menyediakan habitat yang baik bagi mikroba tanah misalnya bakteri dan fungi (contohnya mikoriza dan aktinomicetes) yang membantu dalam perombakan unsur hara agar unsur hara tersebut dapat di serap oleh tenaman. Dalam jangka panjang biochar tidak mengganggu keseimbangan karbon-nitrogen, bahkan mampu menahan dan menjadikan air dan nutrisi lebih tersedia bagi tanaman.
  5. Biochar memiliki sifat fisik berupa luasan permukaan beras sehingga pori-porinya banyak. dengan demikan kemampuan mengikat airnya tinggi. Hal ini sangat cocok digunakan juga di lahan bepasir dan mengatasi kekeringan air dalam tanah karena dapat menyimpan air dan mengurangi penguapan air dari tanah
  6. Memiliki Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang tinggi. Dengan KTK yang tinggi sehingga mampu mengikat kation - kation tanah yang merupakan nutrisi tersedia yang dapat dimanfaatkan bagi pertumbuhan tanaman. biochar juga dapat dikatakan menyimpan unsur hara agar tidak tercuci dan menguap


APAKAH  BIOCHAR RAMAH LINGKUNGAN??

Biochar dapat bersifat ramah dan aman terhadap lingkungan, jika tidak dengan sengaja melakukan penebangan pohon untuk dibuat arang. biochar dapat dikatakan sebagai salah satu alternatif pengelolaan limbah. Limbah pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dan sulit dikomposkan dapat dimanfaatkan untuk biochar.

Bila dikonversi menjadi biochar, maka limbah pertanian tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas lahan, bertahan lama dalam tanah serta berkontribusi terhadap pengurangan emisi karena tidak cepat hilang melalui dekomposisi.

Proses penanganan limbah yang tidak ramah lingkungan, seperti pembakaran (menghasilkan CO2) dapat dihindari. Pembiaran limbah pertanian pada kondisi anaerob dan aerob juga memiliki resiko buruk terhadap lingkungan. Limbah pertanian yang tidak dikelola dengan baik pada kondisi aerob akan menghasilkan CO2, sedangkan pada kondisi anaerob dapat menghasilkan CO2 dan CH4 (methane). Dengan biochar diharapkan mampu mengurangi CO2 dari atmosfer.


BAHAN BAKU BIOCHAR

Bahan baku pembuatan biochar umumnya adalah residu biomasa pertanian atau kehutanan, termasuk potongan kayu, tempurung kelapa, cangkang dan tandan kelapa sawit, tongkol jagung, sekam padi, batang ubi kayu, kulit kakao, kulit kacang-kacangan, kulit-kulit kayu, sisa-sisa usaha perkayuan, serta bahan organik yang berasal dari sampah kertas, sampah kota dan kotoran hewan.


CARA MEMBUAT BIOCHAR

Secara sederhana cara pembuatan Biochar jika bahan bakunya sekam:

membakar arang sekam dengan cerobong. Cara ini cocok diaplikasikan jika anda membuat arang sekam dalam jumlah yang banyak. Sabut kelapa dan tempurung dibakar, kemudian letakkan cerobong diatasnya dengan posisi berdiri sehingga api pembakaran berada didalamnya. Sekam dituangkan disekeliling cerobong hingga membentuk seperti gunung, usahakan cerobong berada tepat ditengah-tengah. Cerobong ini berguna untuk melindungi sekam agar tidak terbakar secara langsung. Beberapa saat kemudian sekam yang berada dipuncak gundukan akan menghitam. Jika terdapat sekam yang belum terbakar naikkan sedikit demi sedikit keatas dekat cerobong. Lakukan sampai sekam manjadi arang seluruhnya. Jika sekam sudah menghitam seluruhnya, segera semprotkan air menggunakan sprayer. Hal ini bertujuan untuk mematikan api yang masih menyala dan mencegah arang menjadi abu.

Membuat biochar dengan menggunakan tungku tanah sederhana. Tungku tanah dibuat dengan cara menggali tanah menyerupai setengah bola dengan diameter 1,5 m dan kedalaman 50 cm. Untuk suplai oksigen digunakan cerobong asap dengan diamater mencapai 30-35 cm. Tungku ini merupakan alat pembuatan Biochar paling murah, rendah biaya operasionalnya, dan efektif dalam membuat Biochar.

Setelah lubang atau tungku telah siap, sekam padi dapat dimasukkan dalam lubang tersebut dengan menaruh cerobong asap di tengah sekam dengan mulai pembakaran dari dalam cerobong menggunakan material mudah terbakar seperti ranting pohon. Kunci keberhasilan pembuatan agribiochar dengan metode di atas adalah terletak pada cerobong asap dan nyala api pada saat awal pembakaran


Membuat Biochar
Foto: http://www.litbang.pertanian.go.id/info-teknologi/2845/


APLIKASI BIOCHAR 

Biochar berbeda dengan pupuk kandang atau kompos yang harus ditambahkan pada setiap musim tanam. Untuk aplikasi biochar tidak perlu dilakukan berulang disetiap musim tanaman. hal ini dikarenakan biochar tidak mengalami pelapukan lanjut hingga mampu bertahan bertahun - tahun didalam tanah.

Bagi petani, pemberian biochar secara bertahap setiap musim lebih dianjurkan karena lebih memungkinkan. Hal ini mengingat limbah pertanian tersedia di lapangan dan dapat dijadikan sebagai bahan baku. Dan dosis yang diberi ke lahan cukup besar tergantung dari bahan baku biocharnya. Bisa menggunakan dosis 4 ton per hektar.

Peran biochar terhadap peningkatan produktivitas tanaman dipengaruhi oleh jumlah biochar yang diberikan ke tanah


Aplikasi dengan cara disebar dilakukan dengan membenamkan biochar bersamaan dengan pengolahan tanah terakhir.

Jika diaplikasikan secara larikan di jalur lubang tanam atau hanya dalam lubang tanam biochar ditutup dengan tanah sebelum dilakukan penanaman.

Letak biochar jangan terlalu dalam. Tetapi di sekitar perakaran tanaman yang menyerap unsur hara.

Apakah dengan pemberian biochar kita tidak perlu lagi melakukan pemupukan???

Pengaplikasian biochar tidak dapat menggantikan peran pupuk. Jadi tanaman perlu tetap diberikan pupuk. Pemberian biochar juga dapat dikombinasikan dengan pemberian kompos maupun pupuk kandang. Menurut penelitian bahwa kompos jerami dan Biochar dapat meningkatkan aktivitas, kepadatan dan keberagaman mikroba tanah, seperti misalnya Bakteri Penambat Nitrogen) dan Bakteri Pelarut Fosfat.


Sumber:

http://www.litbang.pertanian.go.id/info-teknologi/2845/Teknologi Pembuatan Biochar Sederhana. 2017


https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/04/15/p77o2g313-peneliti-biochar-pembenah-tanah-murah-penyelamat-lingkungan