Tampilkan postingan dengan label Pupuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pupuk. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 September 2021

Pentingnya Memasyarakatkan Penggunaan Pupuk Organik

 

Halo para pembaca blog penyuluhan pertanian ini... 

Unggahan kali ini berisikan ajakan kepada para pembaca agar dapat sama - sama merenung dan meluangkan waktu sejenak untuk mengerti tentang betapa pentingnya melestarikan alam hingga generasi selanjutnya kelak. Dari sisi budidaya pertanian dalam pelestarian alam yang dapat dilakukan adalah bagaimana kita mempraktekkan teknologi budidaya secara organik yang ramah lingkungan demi mewujudkan pertanian berkelanjutan. Mari perlahan kita tinggalkan praktek - praktek pertanian yang tidak ramah lingkungan seperti penggunaan pupuk kimia anorganik yang berlebihan.

Penggunaan pupuk kimia anorganik (sintetis) di Indonesia mulai berkembang pesat sejak dicanangkan program Bimbingan Massal (BIMAS) pada tahun 1968 dengan tujuan untuk meningkatkan produksi pertanian. Untuk memenuhi tujuan tersebut diperkenalkan teknologi intensifikasi pertanian yang dikenal dengan istilah Revolusi Hijau (green revolution). Revolusi hijau ini telah mampu mengubah sikap petani dari anti teknologi menjadi sikap mau memanfaatkan teknologi pertanian modern tersebut diatas.

Sejak diterapkan intensifikasi pertanian tersebut, konsumsi pupuk kimia/anorganik berkembang pesat karena varietas-varietas unggul baru yang responsif terhadap pupuk mengharuskan petani menggunakan pupuk kimia/anorganik. Program penyuluhan yang merupakan bagian dari paket program intensifikasi sangat berperan dalam mengubah persepsi petani dalam penggunaan pupuk. Demikian juga kebijakan subsidi harga pupuk kimia/anorganik oleh pemerintah juga merupakan faktor dominan yang ikut berperan dalam meningkatkan penggunaan pupuk kimia/anorganik. Penggunaan pupuk organik sejak diterapkannya program intensifikasi pertanian ini mengalami penurunan, terabaikan dan tertinggal.

Dalam kenyataannya, memang revolusi hijau tersebut telah mampu mencapai tujuan makronya yaitu peningkatan produktivitas, khususnya pada sub sektor pangan. Akan tetapi pada tingkat mikro, revolusi hijau (penggunaan pupuk kimia/anorganik) tersebut telah menimbulkan dampak negatif  yaitu:

  • Menurunnya tingkat kesuburan tanah yang diakibatkan karena adanya gangguan keseimbangan unsur hara dalam tanah;
  • Bagi kesehatan manusia kandungan residu kimia dalam produk pangan yang menggunakan pupuk kimia membahayakan tubuh manusia;
  • Tanaman menjadi sangat rawan terhadap Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), meskipun produktivitasnya tinggi;
  • Pencemaran lingkungan (air) akibat residu kimia yang ditinggalkan. 

Indikasi yang terlihat terjadinya fenomena pelandaian produksi (leveling off) terhadap produktivitas pertanian, walau dosis pupuk kimia/anorganik telah dinaikan dosisnya.

Dari hasil berbagai penelitian – penelitian diketahui bahwa fenomena levelling off ini juga disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan hara dalam tanah. Pemupukan N, P dan K dari pupuk kimia anorganik secara terus menerus dalam takaran tinggi diyakini telah menyebabkan ketidak seimbangan hara dalam tanah, menekan unsur hara mikro seperti Cu dan Zn, serta menguras bahan organik tanah yang sangat berperan dalam aktifitas biologi tanah. 

Dengan uraian diatas maka memasyarakatkan penggunaan pupuk organik yang recycleable dan ramah lingkungan dalam proses budidaya pertanian menjadi sangat penting . Hal ini dimaksudkan agar tetap dapat mempertahankan produktivitas lahan dengan cara mengembalikan kesuburan tanah melalui penggunaan pupuk organik serta meningkatkan kualitas lahan pertanian secara berkelanjutan. Selain itu penggunaan bahan organik sebagai pupuk juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan menjadai salah satu solusi untuk mengurangi limbah / sampah organik.  

Dari uraian tersebut diatas maka  perlu upaya merubah orientasi petani yang telah terbiasa menggunakan pupuk kimia anorganik kembali membiasakan penggunaan pupuk organik. Atau paling tidak mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan pupuk kimia anorganik jika belum dapat melepaskan sepenuhnya. 

Mengajak Petani Membuat Kompos


Pupuk organik memiliki kandungan hara yang lengkap. Bahkan di dalam pupuk organik juga terdapat senyawa-senyawa organik lain yang bermanfaat bagi tanaman, seperti asam humik, asam fulvat dan senyawa-senyawa organik lain. Asam humik dan asam fulvat. Kedua asam ini memiliki peranan seperti hormon yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman.

Pada intinya pupuk organik dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Fungsi fisika bahan organik adalah pengikat butiran primer menjadi butiran sekunder tanah dalam pembentukan agregat yang mantap. Hal ini besar pengaruhnya pada porositas, penyimpanan dan penyediaan air,aerasi dan temperatur tanah.

Meski secara kuantitatif pupuk organik sedikit mengandung unsur hara, namun fungsi kimianya yang penting antara lain (1). penyediaan hara makro (N, P, K, Ca, Mg dan S) dan hara mikro (Zn, Cu, MO, Co, Mn dan Fe). Penggunaan bahan organik dapat mencegah kahat unsur mikro pada tanah marginak atau tanah yang telah diusahakan secara intensif dengan pemupukan yang kurang berimbang; (2). Meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah; (3). Dapat membentuk senyawa kompleks dengan ion logam (Al, Fe dan Mn) yang meracuni tanaman serta menurunkan penyediaan hara.

Fungsi biologis bahan organik adalah sebagai sumber energi dan makanan mikroorganisme tanah sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah yang sangat bermanfaat dalam penyediaan hara dan siklus hara dalam tanah. Dengan demikian pemberian pemberian pupuk organik pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.

Sekali lagi bahwa memasyarakatkan manfaat penggunaan pupuk organik sebagaimana uraian tersebut diatas sangat diperlukan. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan-pelatihan, desiminasi melalui demplot-demplot, serta melalui penyuluhan menggunakan berbagai media (termasuk media internet), bimbingan, advokasi dan pendampingan melalui berbagai kelembagaan kelompok tani.

Ditinjau dari nilai ekonomis pupuk organik, pada bahan dasar pupuk organik non komersial dapat diperoleh dengan mudah tanpa biaya atau dengan biaya yang relatif rendah. Dengan demikian dapat menekan biaya produksi.

Bahan dasar pupuk organik non komersial dapat berasal dari sumber limbah pertanian insitu seperti sisa tanaman, limbah panen, pangkasan tanaman pagar atau tanaman lorong dalam budidaya alley cropping, pupuk hijau (seperti turi, sesbania, azzola, kudzu dll), tumbuhan liar (rumput, pakis-pakisan, lumut, eceng gondok dan lain - lain) serta kotoran dan urine hewan ternak. Selain itu sampah-sampah organik dari limbah rumah tangga juga dapat digunakan. Bahan – bahan tersebut dijadikan pupuk organik melalui teknologi pengomposan sederhana maupun dengan penambahan mikroba dekomposer maupun dibuat sebagai Pupuk Organik Cair (POC).

Dengan mudahnya mendapatkan bahan - bahan yang dapat dibuat pupuk organik, maka meskipun pembaca tinggal di daerah pedalaman sekalipun dapat dengan mudah membuatnya. Dalam blog saya ini sudah beberapa kali saya mengunggah bagaimana cara pembuatan pupuk organik yang mudah dibuat oleh siapapun.

Jadi... ayo mulailah gunakan pupuk organik pada usahatani anda... go green...   

 


Dari berbagai sumber 

Jumat, 05 Maret 2021

PUPUK ORGANIK CAIR (POC) UNTUK PERTUMBUHAN VEGETATIF TANAMAN

Sering sekali saya memposting tentang pupuk organik pada blog saya. Hal ini karena saya ingin mengajak sahabat tani untuk lebih mempertimbangkan penggunaan pupuk organik (selain menggunakan pupuk anorganik) dalam budidaya yang dilakukan guna mewujudkan pertanian berkelanjutan dengan menerapkan prinsip - prinsip Good Agriculture Practice (GAP).

Pembuatan POC di Kelompok Tani
Kali ini saya memposting tentang POC yang baik untuk memupuk tanaman sayuran daun seperti bayam, sawi, kangkung, kubis/kol, selada dan lain-lain. Selain itu cocok untuk pertumbuhan fase vegetatif (pembentukan batang/cabang dan daun, serta pada tanaman padi untuk merangsang pertumbuhan anakan).

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini setelah fermentasi POC dilakukan selama 15 hari dilanjutkan dengan penambahan bahan organik aromatik seperti daun pandan atau kulit jeruk atau daun jeruk purut atau serai atau kenikir dll. kemudian setelah itu dilanjutkan lagi fermentasi selama 15 hari lagi. jadi memerlukan waktu 1 bulan. tujuannya adalah untuk mengurangi aroma urin dan kotoran ternak yang menjadi salah satu bahan POC ini. Tetapi jika sahabat petani tidak ingin ada penambahan bahan organik aromatik juga tidak apa-apa, dimana cukup difermentasi 15 hari saja sudah siap digunakan.

Sebelum membuatnya jangan lupa membaca postingan saya tentang hal - hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan POC sebelum ini. Untuk memudahkan silahkan klik link ini http://oyiepenyuluhsintang.blogspot.com/2020/06/mengenal-pupuk-organik-cair-
poc.html


Langkah - langkah pembuatan POC:

Bahan:

  • Urin ternak (kelinci, kambing atau sapi) 10 liter
  • Kotoran kambing/sapi 1 karung beras ukuran 5 kg
  • Air cucian beras 15 liter
  • Air kelapa 2 liter
  • Air hujan/air sumur/air kolam ikan 20 liter
  • Daun Petai cina/lamtoro/gamal/rumput bandotan 5 kg
  • BawangMerah 3 ons
  • Cocor bebek/labu siam/lidah buaya : 2 ons  (boleh tidak pakai)
  • Gula pasir 1 kg
  • Gula merah 1 kg
  • EM-4 atau MOL Nasi 100 ml
  • Daun pandan/daun jeruk/daun serai (agar mengurangi aroma urin dan kotoran) ½ kg
Catatan: jika hanya membuat sedikit bahan bisa dikurangi takarannya.


Cara Membuat

  • Cincang halus daun petai cina/lamtoro/gamal/rumput bandotan dan coco bebek/labu siam/lidah buaya
  • Larutkan gula pasir dan gula merah dalam air dan EM-4 atau MOL nasi
  • Masukan semua bahan (kecuali daun pandan/daun jeruk/daun serai) kedalam wadah tong plastik atau ember besar
  • Tutup rapat dengan plastik (pastikan plastik penutup tidak bocor), ikat dengan tali ban. Setiap hari selama 1 minggu buka selama 5 menit untuk mengeluarkan gas
  • Biarkan selama 15 hari
  • Setelah 15 hari beri cincangan daun pandan/kulit jeruk/daun jeruk/serai ke dalam wadah. Tujuannya untuk mengurangi bau
  • Biarkan kembali selama 2 minggu. Setelah itu POC siap digunakan


Cara Aplikasi:

  • Campurkan 280 cc  POC per 14 Liter air ( 20 cc per liter air). Semprotkan ke tanaman pada pagi atau sore hari setiap 1 minggu atau 10 hari sekali
  • Bisa juga dikocorkan langsung ke tanah dengan dosis 300 cc per  20 liter air biasa. Setelah tercampur siram/kocorkan ke tanah sebanyak 1 gelas air mineral.
  • 1 minggu sebelum tanam lahan dapat disemprot dengan POC.
  • Cocok untuk semua jenis tanaman. 


Dengan penggunaan POC ini, dosis pupuk kimia (anorganik) dapat dikurangi sehingga dapat menekan kerusakan tanah akibat terus menerus menggunakan pupuk kimia anorganik.

Kamis, 08 Oktober 2020

DAMPAK PENGGUNAAN PUPUK KIMIA ANORGANIK


 DAMPAK PENGGUNAAN PUPUK KIMIA ANORGANIK

Pupuk merupakan salah satu sarana produksi pertanian yang sangat penting dalam keberhasilan produksi pertanian. Pupuk kimia anorganik merupakan pupuk yang paling dominan dipergunakan oleh petani. Penggunaan pupuk kimia anorganik di Indonesia mulai berkembang pesat sejak dicanangkan program Bimbingan Massal (BIMAS) pada tahun 1968 dengan tujuan untuk meningkatkan produksi pertanian. Untuk memenuhi tujuan tersebut diperkenalkan teknologi intensifikasi pertanian yang dikenal dengan istilah Revolusi Hijau. Revolusi hijau ini telah mampu mengubah sikap petani dari anti teknologi menjadi sikap mau memanfaatkan teknologi pertanian modern dimana salah satunya adalah pupuk kimia anorganik.

Sejak diterapkan intensifikasi pertanian tersebut, konsumsi pupuk kimia anorganik berkembang pesat karena varietas-varietas unggul baru yang responsif terhadap pupuk mengharuskan petani menggunakan pupuk kimia anorganik. Demikian juga kebijakan subsidi harganya oleh pemerintah juga merupakan faktor dominan yang ikut berperan dalam meningkatkan penggunaan pupuk kimia anorganik.

Akibatnya penggunaan pupuk organik sejak diterapkannya program intensifikasi pertanian ini mengalami penurunan, terabaikan dan tertinggal.  Dalam kenyataannya, memang revolusi hijau tersebut telah mampu meningkatkan produktivitas, khususnya pada sub sektor pangan. Akan tetapi dengan revolusi hijau yang salah satunya adalah penggunaan pupuk kimia anorganik tersebut telah menimbulkan dampak negatif  yaitu:

1.        Timbulnya degradasi lahan yang cukup besar berupa menurunnya kesuburan dan pemiskinan unsur hara tanah. Menurunnya tingkat kesuburan tanah yang diakibatkan karena adanya gangguan keseimbangan unsur hara dalam tanah. Hasil penelitian yang telah banyak dilakukan oleh berbagai kalangan diketahui bahwa ketidakseimbangan hara dalam tanah menyebabkan fenomena pelandaian produksi (levelling off). Pemupukan N, P dan K dari pupuk kimia anorganik secara terus menerus dalam takaran tinggi diyakini telah menyebabkan ketidak seimbangan hara dalam tanah, menekan unsur hara mikro seperti Cu dan Zn, serta menguras bahan organik tanah yang sangat berperan dalam aktifitas biologi tanah;

2.  Bagi kesehatan manusia kandungan residu kimia yang terserap dalam produk pangan yang membahayakan tubuh manusia;

3.       Tanaman menjadi rentan (tidak tahan) terhadap serangan hama dan penyakit;

4.       Pencemaran lingkungan air dan tanah akibat residu kimia yang ditinggalkan.


Mengutip dari Pusat Penelitian Biologi LIPI bahwa kekhawatiran yang terjadi pada petani Indonesia saat ini adalah kiblat mereka dalam penggunaan pupuk kimia atau non organik.  Bila penggunaan pupuk kimia dibiarkan dalam kurun waktu setidaknya 25 tahun, maka bisa dibayangkan akan terjadi kerusakan pada tanah dan lahan pertanian yang signifikan.


Melihat dampak negatif dari penggunaan pupuk kimia anorganik tersebut, maka ayo mulai beralih menggunakan pupuk organik berbasis lokal dimana menggunakan bahan bahan disekitar kita. Dengan penggunaan pupuk organik yang ramah lingkungan, akan menjamin petani dapat mewujudkan pertanian berkelanjutan (Sustainable Agriculture).  


Jumat, 19 Juni 2020

CARA MEMBUAT PUPUK ORGANIK CAIR (POC) LENGKAP

Kali ini saya kembali memposting cara membuat POC. seperti janji saya dipostingan sebelumnya bahwa saya akan banyak memposting pembuatan pupuk organik.

POC yang kali ini kandungannya lengkap, karena bahan-bahan yang digunakan antara lain mengandung unsur N, P, K, Ca dan zat pengatur tumbuh. 

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini setelah fermentasi POC dilakukan selama 15 hari dilanjutkan dengan penambahan bahan organik aromatik seperti daun pandan atau kulit jeruk atau daun jeruk purut atau serai atau kenikir dll. kemudian setelah itu dilanjutkan lagi fermentasi selama 15 hari lagi. jadi memerlukan waktu 1 bulan. tujuannya adalah untuk mengurangi aroma urin dan kotoran ternak yang menjadi salah satu bahan POC ini. Tetapi jika sahabat petani tidak ingin ada penambahan bahan organik aromatik juga tidak apa-apa.

Sebelum membuatnya jangan lupa membaca postingan saya tentang hal - hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan POC sebelum ini. Untuk memudahkan silahkan klik link ini http://oyiepenyuluhsintang.blogspot.com/2020/06/mengenal-pupuk-organik-cair-poc.html

Berikut bahan-bahan yang diperlukan dan cara pembuatannya:

Bahan:

1.        Urin ternak (kelinci, kambing atau sapi) 10 liter

2.        Kotoran kambing/sapi 1 karung beras ukuran 5 kg

3.        Air cucian beras 15 liter

4.        Air kelapa 2 liter

5.        Air hujan/air sumur 20 liter

6.        Pucuk tanaman tebu 3 kg

7.        Daun Petai cina/lamtoro/gamal 1 kg

8.        Jagung muda 2 ons

9.        Batang pisang 1 kg

10.    Pakis – pakisan 1 kg (boleh pakis apa saja)

11.    Limbah buah-buahan termasuk kulitnya (kulit pisang, kulit nanas, buah jambu dll) sebanyak 1 kg

12.    Pucuk daun ubi jalar 1 kg

13.    Cocor bebek/labu siam/lidah buaya : 2 ons  (boleh tidak pakai)

14.        Sabut kelapa disuir –suir sebanyak 1 kantong sedang

15.        Cangkang telur 1 kantong kecil

16.        Gula pasir 1 kg

17.        Gula merah 1 kg

18.        EM-4 atau MOL Nasi 100 ml

19.        Daun pandan/kulit jeruk/daun jeruk/serai (agar mengurangi aroma urin) ½ kg

 Catatan: jika hanya membuat sedikit bahan bisa dikurangi takarannya.


Cara membuat:

-          Cincang halus bahan dari nomor 6 – 13 di atas

-          Tumbuk cangkang telur

-          Larutkan gula pasir dan gula merah dalam air dan EM-4 atau MOL nasi

-          Masukan semua bahan (kecuali bahan nomor 19 diatas) kedalam wadah tong plastik atau ember        besar

-          Tutup rapat dengan plastik (pastikan plastik penutup tidak bocor), ikat dengan tali ban. Setiap hari      selama 1 minggu buka selama 5 menit untuk mengeluarkan gas

-          Biarkan selama 15 hari

-           Setelah 15 hari beri cincangan daun pandan/kulit jeruk/daun jeruk/serai ke dalam wadah.                   Tujuannya untuk mengurangi bau

-          Biarkan kembali selama 2 minggu untuk fermentasi lanjutan. Setelah itu POC siap digunakan


Pemberian Daun Pandan Pada POC Untuk Mengurangi Bau Urin dan Kotoran Ternak


 Cara Aplikasi:

-        Campurkan 280 cc  POC per 14 Liter air ( 20 cc per liter air). Semprotkan ke tanaman pada pagi atau  sore hari setiap 1 minggu atau 10 hari sekali

-       Bisa juga dikocorkan langsung ke tanah dengan dosis 400 cc per  20 liter air biasa. Setelah tercampur siram/kocorkan ke tanah sebanyak 1 gelas air mineral.

-        1 minggu sebelum tanam lahan dapat disemprot dengan POC.

-         Cocok untuk semua jenis tanaman.