Tampilkan postingan dengan label Organik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Organik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juni 2022

AYO BERTANAM ORGANIK

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan 4 orang petani yang ingin belajar bertanam sayuran organik. Saya menyambut dengan senang hati karena saya salah satu dari sekian banyak orang yang sangat bersemangat mengajak petani untuk cenderung mengajak mereka perlahan-lahan meninggalkan ketergantungan akan input produksi kimia sintetis seperti pupuk dan pestisida. Hal ini demi keberlangsungan pertanian berkelanjutan dan kesehatan si petani itu sendiri maupun konsumen.

Saat ini begitu banyak petani yang sangat mengandalkan pestisida dan pupuk an-organik karena anggapan mereka lebih praktis dan tidak repot, serta hasilnya segera terlihat. Dibutuhkan waktu, kesabaran dan tidak pernah bosan untuk mengajak siapa saja untuk mulai meninggalkan praktek budidaya yang  tidak ramah lingkungan.

Atas dasar itulah kali ini saya menyajikan materi ini dalam blog saya dengan harapan dapat mengguggah banyak petani untuk bertani organik. Go green...

Kesadaran untuk hidup sehat membuat makanan organik makanan organik seperti sayuran mulai dicari orang. Saat ini dikota-kota besar sudah mulai banyak dijumpai gerai-gerai organik yang menjual sayuran, ayam, telur dll yang dipelihara dengan metoda organik. Namun harga produk-produk organik masih dirasa mahal walaupun sebenarnya mahal itu relatif jika dibandingkan dengan biaya berobat.

Penerapan teknologi pertanian modern seperti penggunaan bibit unggul, pupuk kimiawi, dan pestisida kimia dalam intensifikasi penggunaan lahan menimbulkan degradasi lahan yang cukup besar sehingga mengakibatkan penurunan  produktivitas tanaman pertanian. Hal ini disebabkan penggunaan pupuk kimia secara berlebihan untuk meningkatkan produktivitas tanaman telah mengakibatkan permasalahan tersendiri yaitu menurunnya kesuburan dan pemiskinan unsur hara tanah. Dengan menerapkan budidaya pertanian organik termasuk budidaya sayuran (menggunakan pupuk organik dan pestisida nabati) dapat mengembalikan kesuburan tanah.

Kerugian yang ditimbulkan oleh penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia selain menimbulkan permasalah diatas, juga menyebabkan pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan pada manusia akibat dari residu kimia yang terserap oleh bahan pangan. Seperti bahan kimia yang terdapat dalam insektisida dapat menimbulkan gangguan kesehatan baik secara langsung maupun dalam jangka waktu yang panjang.

Racun yang terkandung dalam pestisida dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan hasil pertanian dan peternakan yang tercemar pestisida, air yang tercemar, ataupun dari udara yang dihembuskan dari daerah pertanian yang melakukan penyemprotan hama.
Sistem pertanian organik diartikan sebagai kegiatan usahan tani secara menyeluruh sejak proses (prapanen) sampai proses pengolahan hasil (pasca panen) yang bersifat ramah lingkungan dan dikelola secara alami (tanpa penggunaan bahan kimia dan rekayasa genetika), sehingga menghasilkan produk yang sehat dan bergizi.
Prinsip pertanian organik yaitu ramah lingkungan, tidak mencemari dan merusak lingkungan. Cara yang ditempuh agar tujuan itu tercapai antara lain:

  1. Memupuk dengan pupuk organik padat (kompos/pupuk kandang/guano)
  2. Memupuk dengan pupuk organik cair (POC) dan pupuk hayati
  3. Memupuk dengan pupuk hijau
  4. Mengaplikasikan pestisida nabati 
  5. Mempertahankan dan melestarikan habitat tanam dengan pola tanam polikultur.
Untuk cara membuat kompos, POC dan pestisida nabati dapat dilihat dalam postingan sebelum - sebelum ini di blog saya ini.


         Kelebihan dan kekurangan Sistem Pertanian Organik
Kelebihan dari sistem pertanian organik:

  1. Tidak menggunakan pupuk dan pestisida anorganik sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, baik tanah, air dan udara serta produksi tidak mengandung racun yang membahayakan kesehatan;
  2. Tanaman organik memiliki rasa yang lebih manis, lebih renyah dan tidak mudah patah dibanding tanaman anorganik
  3. Daya simpan lebih lama dibanding dengan produk tanaman anorganik
  4. Produk tanaman organik lebih mahal
Kekurangan dari sistem organik:
  1. Kebutuhan tenaga kerja lebih banyak, terutama untuk pengendalian hama dan penyakit. Umumnya pengendalian hama/penyakit dilakukan manual/mekanik dan menggunakan pestisida nabati yang perlu dibuat sendiri. Hingga saat ini di pasar belum ada yang menjual pestisida nabati;
  2. Penampilan fisik tanaman organik umumnya kurang bagus (misalnya berukuran lebih kecil dan berlubang-lubang daunnya jika dimakan hama) dibanding produk tanaman anorganik.

Sumber:
Ir. Pracana. Seri Agriisnis. Bertanam Sayuran Organik di Kebun, Pot dan Polibag.




Jumat, 17 September 2021

Pentingnya Memasyarakatkan Penggunaan Pupuk Organik

 

Halo para pembaca blog penyuluhan pertanian ini... 

Unggahan kali ini berisikan ajakan kepada para pembaca agar dapat sama - sama merenung dan meluangkan waktu sejenak untuk mengerti tentang betapa pentingnya melestarikan alam hingga generasi selanjutnya kelak. Dari sisi budidaya pertanian dalam pelestarian alam yang dapat dilakukan adalah bagaimana kita mempraktekkan teknologi budidaya secara organik yang ramah lingkungan demi mewujudkan pertanian berkelanjutan. Mari perlahan kita tinggalkan praktek - praktek pertanian yang tidak ramah lingkungan seperti penggunaan pupuk kimia anorganik yang berlebihan.

Penggunaan pupuk kimia anorganik (sintetis) di Indonesia mulai berkembang pesat sejak dicanangkan program Bimbingan Massal (BIMAS) pada tahun 1968 dengan tujuan untuk meningkatkan produksi pertanian. Untuk memenuhi tujuan tersebut diperkenalkan teknologi intensifikasi pertanian yang dikenal dengan istilah Revolusi Hijau (green revolution). Revolusi hijau ini telah mampu mengubah sikap petani dari anti teknologi menjadi sikap mau memanfaatkan teknologi pertanian modern tersebut diatas.

Sejak diterapkan intensifikasi pertanian tersebut, konsumsi pupuk kimia/anorganik berkembang pesat karena varietas-varietas unggul baru yang responsif terhadap pupuk mengharuskan petani menggunakan pupuk kimia/anorganik. Program penyuluhan yang merupakan bagian dari paket program intensifikasi sangat berperan dalam mengubah persepsi petani dalam penggunaan pupuk. Demikian juga kebijakan subsidi harga pupuk kimia/anorganik oleh pemerintah juga merupakan faktor dominan yang ikut berperan dalam meningkatkan penggunaan pupuk kimia/anorganik. Penggunaan pupuk organik sejak diterapkannya program intensifikasi pertanian ini mengalami penurunan, terabaikan dan tertinggal.

Dalam kenyataannya, memang revolusi hijau tersebut telah mampu mencapai tujuan makronya yaitu peningkatan produktivitas, khususnya pada sub sektor pangan. Akan tetapi pada tingkat mikro, revolusi hijau (penggunaan pupuk kimia/anorganik) tersebut telah menimbulkan dampak negatif  yaitu:

  • Menurunnya tingkat kesuburan tanah yang diakibatkan karena adanya gangguan keseimbangan unsur hara dalam tanah;
  • Bagi kesehatan manusia kandungan residu kimia dalam produk pangan yang menggunakan pupuk kimia membahayakan tubuh manusia;
  • Tanaman menjadi sangat rawan terhadap Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), meskipun produktivitasnya tinggi;
  • Pencemaran lingkungan (air) akibat residu kimia yang ditinggalkan. 

Indikasi yang terlihat terjadinya fenomena pelandaian produksi (leveling off) terhadap produktivitas pertanian, walau dosis pupuk kimia/anorganik telah dinaikan dosisnya.

Dari hasil berbagai penelitian – penelitian diketahui bahwa fenomena levelling off ini juga disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan hara dalam tanah. Pemupukan N, P dan K dari pupuk kimia anorganik secara terus menerus dalam takaran tinggi diyakini telah menyebabkan ketidak seimbangan hara dalam tanah, menekan unsur hara mikro seperti Cu dan Zn, serta menguras bahan organik tanah yang sangat berperan dalam aktifitas biologi tanah. 

Dengan uraian diatas maka memasyarakatkan penggunaan pupuk organik yang recycleable dan ramah lingkungan dalam proses budidaya pertanian menjadi sangat penting . Hal ini dimaksudkan agar tetap dapat mempertahankan produktivitas lahan dengan cara mengembalikan kesuburan tanah melalui penggunaan pupuk organik serta meningkatkan kualitas lahan pertanian secara berkelanjutan. Selain itu penggunaan bahan organik sebagai pupuk juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan menjadai salah satu solusi untuk mengurangi limbah / sampah organik.  

Dari uraian tersebut diatas maka  perlu upaya merubah orientasi petani yang telah terbiasa menggunakan pupuk kimia anorganik kembali membiasakan penggunaan pupuk organik. Atau paling tidak mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan pupuk kimia anorganik jika belum dapat melepaskan sepenuhnya. 

Mengajak Petani Membuat Kompos


Pupuk organik memiliki kandungan hara yang lengkap. Bahkan di dalam pupuk organik juga terdapat senyawa-senyawa organik lain yang bermanfaat bagi tanaman, seperti asam humik, asam fulvat dan senyawa-senyawa organik lain. Asam humik dan asam fulvat. Kedua asam ini memiliki peranan seperti hormon yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman.

Pada intinya pupuk organik dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Fungsi fisika bahan organik adalah pengikat butiran primer menjadi butiran sekunder tanah dalam pembentukan agregat yang mantap. Hal ini besar pengaruhnya pada porositas, penyimpanan dan penyediaan air,aerasi dan temperatur tanah.

Meski secara kuantitatif pupuk organik sedikit mengandung unsur hara, namun fungsi kimianya yang penting antara lain (1). penyediaan hara makro (N, P, K, Ca, Mg dan S) dan hara mikro (Zn, Cu, MO, Co, Mn dan Fe). Penggunaan bahan organik dapat mencegah kahat unsur mikro pada tanah marginak atau tanah yang telah diusahakan secara intensif dengan pemupukan yang kurang berimbang; (2). Meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah; (3). Dapat membentuk senyawa kompleks dengan ion logam (Al, Fe dan Mn) yang meracuni tanaman serta menurunkan penyediaan hara.

Fungsi biologis bahan organik adalah sebagai sumber energi dan makanan mikroorganisme tanah sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah yang sangat bermanfaat dalam penyediaan hara dan siklus hara dalam tanah. Dengan demikian pemberian pemberian pupuk organik pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.

Sekali lagi bahwa memasyarakatkan manfaat penggunaan pupuk organik sebagaimana uraian tersebut diatas sangat diperlukan. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan-pelatihan, desiminasi melalui demplot-demplot, serta melalui penyuluhan menggunakan berbagai media (termasuk media internet), bimbingan, advokasi dan pendampingan melalui berbagai kelembagaan kelompok tani.

Ditinjau dari nilai ekonomis pupuk organik, pada bahan dasar pupuk organik non komersial dapat diperoleh dengan mudah tanpa biaya atau dengan biaya yang relatif rendah. Dengan demikian dapat menekan biaya produksi.

Bahan dasar pupuk organik non komersial dapat berasal dari sumber limbah pertanian insitu seperti sisa tanaman, limbah panen, pangkasan tanaman pagar atau tanaman lorong dalam budidaya alley cropping, pupuk hijau (seperti turi, sesbania, azzola, kudzu dll), tumbuhan liar (rumput, pakis-pakisan, lumut, eceng gondok dan lain - lain) serta kotoran dan urine hewan ternak. Selain itu sampah-sampah organik dari limbah rumah tangga juga dapat digunakan. Bahan – bahan tersebut dijadikan pupuk organik melalui teknologi pengomposan sederhana maupun dengan penambahan mikroba dekomposer maupun dibuat sebagai Pupuk Organik Cair (POC).

Dengan mudahnya mendapatkan bahan - bahan yang dapat dibuat pupuk organik, maka meskipun pembaca tinggal di daerah pedalaman sekalipun dapat dengan mudah membuatnya. Dalam blog saya ini sudah beberapa kali saya mengunggah bagaimana cara pembuatan pupuk organik yang mudah dibuat oleh siapapun.

Jadi... ayo mulailah gunakan pupuk organik pada usahatani anda... go green...   

 


Dari berbagai sumber 

Jumat, 05 Maret 2021

PUPUK ORGANIK CAIR (POC) UNTUK PERTUMBUHAN VEGETATIF TANAMAN

Sering sekali saya memposting tentang pupuk organik pada blog saya. Hal ini karena saya ingin mengajak sahabat tani untuk lebih mempertimbangkan penggunaan pupuk organik (selain menggunakan pupuk anorganik) dalam budidaya yang dilakukan guna mewujudkan pertanian berkelanjutan dengan menerapkan prinsip - prinsip Good Agriculture Practice (GAP).

Pembuatan POC di Kelompok Tani
Kali ini saya memposting tentang POC yang baik untuk memupuk tanaman sayuran daun seperti bayam, sawi, kangkung, kubis/kol, selada dan lain-lain. Selain itu cocok untuk pertumbuhan fase vegetatif (pembentukan batang/cabang dan daun, serta pada tanaman padi untuk merangsang pertumbuhan anakan).

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini setelah fermentasi POC dilakukan selama 15 hari dilanjutkan dengan penambahan bahan organik aromatik seperti daun pandan atau kulit jeruk atau daun jeruk purut atau serai atau kenikir dll. kemudian setelah itu dilanjutkan lagi fermentasi selama 15 hari lagi. jadi memerlukan waktu 1 bulan. tujuannya adalah untuk mengurangi aroma urin dan kotoran ternak yang menjadi salah satu bahan POC ini. Tetapi jika sahabat petani tidak ingin ada penambahan bahan organik aromatik juga tidak apa-apa, dimana cukup difermentasi 15 hari saja sudah siap digunakan.

Sebelum membuatnya jangan lupa membaca postingan saya tentang hal - hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan POC sebelum ini. Untuk memudahkan silahkan klik link ini http://oyiepenyuluhsintang.blogspot.com/2020/06/mengenal-pupuk-organik-cair-
poc.html


Langkah - langkah pembuatan POC:

Bahan:

  • Urin ternak (kelinci, kambing atau sapi) 10 liter
  • Kotoran kambing/sapi 1 karung beras ukuran 5 kg
  • Air cucian beras 15 liter
  • Air kelapa 2 liter
  • Air hujan/air sumur/air kolam ikan 20 liter
  • Daun Petai cina/lamtoro/gamal/rumput bandotan 5 kg
  • BawangMerah 3 ons
  • Cocor bebek/labu siam/lidah buaya : 2 ons  (boleh tidak pakai)
  • Gula pasir 1 kg
  • Gula merah 1 kg
  • EM-4 atau MOL Nasi 100 ml
  • Daun pandan/daun jeruk/daun serai (agar mengurangi aroma urin dan kotoran) ½ kg
Catatan: jika hanya membuat sedikit bahan bisa dikurangi takarannya.


Cara Membuat

  • Cincang halus daun petai cina/lamtoro/gamal/rumput bandotan dan coco bebek/labu siam/lidah buaya
  • Larutkan gula pasir dan gula merah dalam air dan EM-4 atau MOL nasi
  • Masukan semua bahan (kecuali daun pandan/daun jeruk/daun serai) kedalam wadah tong plastik atau ember besar
  • Tutup rapat dengan plastik (pastikan plastik penutup tidak bocor), ikat dengan tali ban. Setiap hari selama 1 minggu buka selama 5 menit untuk mengeluarkan gas
  • Biarkan selama 15 hari
  • Setelah 15 hari beri cincangan daun pandan/kulit jeruk/daun jeruk/serai ke dalam wadah. Tujuannya untuk mengurangi bau
  • Biarkan kembali selama 2 minggu. Setelah itu POC siap digunakan


Cara Aplikasi:

  • Campurkan 280 cc  POC per 14 Liter air ( 20 cc per liter air). Semprotkan ke tanaman pada pagi atau sore hari setiap 1 minggu atau 10 hari sekali
  • Bisa juga dikocorkan langsung ke tanah dengan dosis 300 cc per  20 liter air biasa. Setelah tercampur siram/kocorkan ke tanah sebanyak 1 gelas air mineral.
  • 1 minggu sebelum tanam lahan dapat disemprot dengan POC.
  • Cocok untuk semua jenis tanaman. 


Dengan penggunaan POC ini, dosis pupuk kimia (anorganik) dapat dikurangi sehingga dapat menekan kerusakan tanah akibat terus menerus menggunakan pupuk kimia anorganik.

Jumat, 19 Juni 2020

CARA MEMBUAT PUPUK ORGANIK CAIR (POC) LENGKAP

Kali ini saya kembali memposting cara membuat POC. seperti janji saya dipostingan sebelumnya bahwa saya akan banyak memposting pembuatan pupuk organik.

POC yang kali ini kandungannya lengkap, karena bahan-bahan yang digunakan antara lain mengandung unsur N, P, K, Ca dan zat pengatur tumbuh. 

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini setelah fermentasi POC dilakukan selama 15 hari dilanjutkan dengan penambahan bahan organik aromatik seperti daun pandan atau kulit jeruk atau daun jeruk purut atau serai atau kenikir dll. kemudian setelah itu dilanjutkan lagi fermentasi selama 15 hari lagi. jadi memerlukan waktu 1 bulan. tujuannya adalah untuk mengurangi aroma urin dan kotoran ternak yang menjadi salah satu bahan POC ini. Tetapi jika sahabat petani tidak ingin ada penambahan bahan organik aromatik juga tidak apa-apa.

Sebelum membuatnya jangan lupa membaca postingan saya tentang hal - hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan POC sebelum ini. Untuk memudahkan silahkan klik link ini http://oyiepenyuluhsintang.blogspot.com/2020/06/mengenal-pupuk-organik-cair-poc.html

Berikut bahan-bahan yang diperlukan dan cara pembuatannya:

Bahan:

1.        Urin ternak (kelinci, kambing atau sapi) 10 liter

2.        Kotoran kambing/sapi 1 karung beras ukuran 5 kg

3.        Air cucian beras 15 liter

4.        Air kelapa 2 liter

5.        Air hujan/air sumur 20 liter

6.        Pucuk tanaman tebu 3 kg

7.        Daun Petai cina/lamtoro/gamal 1 kg

8.        Jagung muda 2 ons

9.        Batang pisang 1 kg

10.    Pakis – pakisan 1 kg (boleh pakis apa saja)

11.    Limbah buah-buahan termasuk kulitnya (kulit pisang, kulit nanas, buah jambu dll) sebanyak 1 kg

12.    Pucuk daun ubi jalar 1 kg

13.    Cocor bebek/labu siam/lidah buaya : 2 ons  (boleh tidak pakai)

14.        Sabut kelapa disuir –suir sebanyak 1 kantong sedang

15.        Cangkang telur 1 kantong kecil

16.        Gula pasir 1 kg

17.        Gula merah 1 kg

18.        EM-4 atau MOL Nasi 100 ml

19.        Daun pandan/kulit jeruk/daun jeruk/serai (agar mengurangi aroma urin) ½ kg

 Catatan: jika hanya membuat sedikit bahan bisa dikurangi takarannya.


Cara membuat:

-          Cincang halus bahan dari nomor 6 – 13 di atas

-          Tumbuk cangkang telur

-          Larutkan gula pasir dan gula merah dalam air dan EM-4 atau MOL nasi

-          Masukan semua bahan (kecuali bahan nomor 19 diatas) kedalam wadah tong plastik atau ember        besar

-          Tutup rapat dengan plastik (pastikan plastik penutup tidak bocor), ikat dengan tali ban. Setiap hari      selama 1 minggu buka selama 5 menit untuk mengeluarkan gas

-          Biarkan selama 15 hari

-           Setelah 15 hari beri cincangan daun pandan/kulit jeruk/daun jeruk/serai ke dalam wadah.                   Tujuannya untuk mengurangi bau

-          Biarkan kembali selama 2 minggu untuk fermentasi lanjutan. Setelah itu POC siap digunakan


Pemberian Daun Pandan Pada POC Untuk Mengurangi Bau Urin dan Kotoran Ternak


 Cara Aplikasi:

-        Campurkan 280 cc  POC per 14 Liter air ( 20 cc per liter air). Semprotkan ke tanaman pada pagi atau  sore hari setiap 1 minggu atau 10 hari sekali

-       Bisa juga dikocorkan langsung ke tanah dengan dosis 400 cc per  20 liter air biasa. Setelah tercampur siram/kocorkan ke tanah sebanyak 1 gelas air mineral.

-        1 minggu sebelum tanam lahan dapat disemprot dengan POC.

-         Cocok untuk semua jenis tanaman.


Jumat, 05 Juni 2020

MENGENAL PUPUK ORGANIK CAIR (POC)

Berbicara tentang pupuk organik saya termasuk orang yang sangat bersemangat mengenalkan pupuk organik ke petani. Mengingat begitu banyak petani di kabupaten tempat saya bertugas mempunyai keterbatasan dalam membeli pupuk kimia anorganik/sintetis. Selain itu praktek -praktek pertanian yang tidak ramah lingkungan telah menimbulkan dampak degradasi lahan. Maka jangan heran bagi pengunjung blog saya, akan sering menemukan materi tentang berbagai macam pupuk organik.  

Pupuk Organik Cair (POC) merupakan larutan dari pembusukan bahan - bahan organik yang berasal dari sisa tanaman dan limbah hewan yang kandungan unsur haranya lebih dari satu unsur. POC juga dapat dimanfaatkan sebagai aktivator dalam pembuatan kompos.

Untuk bahan - bahan yang dapat dibuat POC dapat dilihat pada postingan terdahulu. untuk memudahkan silahkan klik link berikut. http://oyiepenyuluhsintang.blogspot.com/2020/05/sumber-dan-macam-macam-pupuk-organik.html


Kelebihan pupuk organik cair dapat memperbaiki sifat kimia dan biologi tanah dimana berupa antara lain adalah:

-            Unsur hara lebih lengkap baik unsur makro maupun mikro

-            Unsur haranya lebih mudah diserap oleh tanaman

-            Mengandung mikroorganisme yang baik bagi kesuburan tanah dan tanaman

-            Meningkatkan produksi dan kualitas produk tanaman

-            Meningkat vigor tanaman dimana meningkatkan daya tahan tanaman terhadap patogen penyebab   penyakit

 

Dari sisi pembuatannya POC mempunyai keunggulan yaitu:

-            Proses pembuatannya lebih mudah dibanding dengan pembuatan kompos

-            Murah

-            Peralatan yang digunakan relatif lebih sederhana dan dapat menggunakan barang bekas

-            Tidak memerlukan keahlian khusus, siapapun bisa membuatnya.


Umumnya POC yang dibuat selain mengandung nutrisi tanaman, juga sudah mengandung ZPT dan mikro organisme. Hal ini dikarenakan bahan pembuatannya ada yang mengandung ZPT alami. Selain itu juga POC sebagian besar mengandung mikroorganisme yang baik untuk kesuburan tanah.

Nah sebelum sahabat petani membuat POC, terdapat hal – hal penting yang perlu diperhatikan dalam pembuatan POC agar POC yang kita buat dapat berhasil dengan baik, yaitu:

a.     Wadah sebaiknya menggunakan bahan plastis. Jangan menggunakan wadah yang mudah berkarat. Wadah yang dapat digunakan seperti ember plastik, tong plastik, jerigen, botol plastik, toples plastik dan lain – lain.

b.     Wadah POC harus tertutup rapat. POC yang dibuat dari berbagai limbah organik dilakukan dengan cara fermentasi. Fermentasi merupakan proses penguraian atau perombakan bahan organik yang dilakukan dalam kondisi tertentu oleh mikroorganisme fermentatif. Dalam proses fermentasi tersebut tidak membutuhkan oksigen (anaerob).  Prinsip dari fermentasi anaerob ini adalah bahan limbah organik dihancurkan oleh mikroba dalam kisaran temperatur dan kondisi tertentu yaitu fermentasi anaerob. Caranya adalah dengan menutup rapat wadah POC dan tidak boleh terkena udara luar.

Jika menggunakan wadah yang mempunyai tutup kecil seperti jerigen atau botol plastik dimana menggunakan tutup langsung, maka harus setiap hari dibuka untuk mengeluarkan gas. Proses fermentasi POC akan mengeluarkan gas. Jika setiap hari tidak dibuka sekitar  5 menit untuk membuang gasnya maka botol akan membengkak penuh akan gas, sehingga jika dibuka tutupnya akan meledak dan memuntahkan isinya keluar.

Untuk menyiasatinya jika malas membuka tutup botol/jerigen setiap hari, maka tutupnya dapat diganti dengan balon (tusuk balon 1 kali saja menggunakan jarum kecil) ataupun diberi selang kecil.

 Wadah bermulut lebar juga dapat menggunakan selang, agar tidak buka tutup tiap hari. Tetapi bisa juga hanya menggunakan plastik dan diikat tali ban dengan catatan harus dibuka setiap hari selama 5 menit untuk membuang gas seperti pada gambar berikut.

 


 

c.     Pembuatan POC memerlukan glukosa sebagai makanan/energi bagi mikroorganisme pengurainya. Glukosa yang dapat digunakan contohnya Molase yang merupakan cairan dari sari tetes tebu. Jika tidak ada molase maka dapat diganti dengan cara melarutkan gula merah atau putih kedalam air bersih dengan perbandingan 1:1. Sebagai contoh untuk mendapatkan 500 ml molase diperlukan gula merah atau gula putih sebanyak 500 gr dan air bersih sebanyak 500 ml

d.     Jangan menggunakan air PAM karena mengandung klorin. Air yang digunakan untuk membuat POC lebih baik menggunakan air hujan, air sumur, air limbah AC atau dari sumber lainnya. Jika terpaksa menggunakan air PAM maka lebih baik diendapkan beberapa hari sebelumnya

e.     Harus ada rongga udara dalam wadah pembuatan POC. Dalam mengisi bahan-bahan organik dan air untuk POC, harus tidak boleh penuh hingga kebibir wadah. Sisakan ruang paling atas sekitar 5 cm

f.    Wadah POC ditempatkan ditempat yang teduh. lebih baik wadah POC tidak dijemur/kena sinar matahari karena dapat menghambat fermentasi

g.     Pemberian bahan organik yang berbau wangi. POC biasanya ada aroma seperti tape. Namun POC yang dibuat dari limbah organik seperti urine dan limbah hewan biasanya bau khas pupuk ini cukup menyengat. Namun bau tersebut dapat dikurangi, bahkan dihilangkan dengan cara memberikan pewangi. Produk yang dihasilkan merupakan produk organik, bahan pewangi nya pun harus bahan alami. Bahan pewangi alami yang dapat digunakan yaitu sereh wangi, kulit dan daun jeruk, atau pandan (Purwendro, 2008). Bahan pewangi alami lainnya masih banyak lagi yang bisa digunaka

h.   Untuk mempercepat proses pelapukan bahan organik yang digunakan maka dapat ditambahkan EM-4 yang dapat dibeli ditoko pertanian ataupun MOL yang bisa dibuat sendiri 


POC dapat dapat diaplikasikan keberbaagai jenis tanaman. Interval waktunya bisa 7 - 10 hari sekali. Pemberiannya dapat dilakukan dengan cara disemprotkan ke tanaman, maupun dengan cara disiram atau dikocorkan. Pemberiannya lebih baik dilakukan pada pagi hari atau sore hari. 

Ayo sahabat petani mulailah beralih membuat POC dengan bahan-bahan yang mudah kita dapat disekitar kita....