Jumat, 17 September 2021

Pentingnya Memasyarakatkan Penggunaan Pupuk Organik

 

Halo para pembaca blog penyuluhan pertanian ini... 

Unggahan kali ini berisikan ajakan kepada para pembaca agar dapat sama - sama merenung dan meluangkan waktu sejenak untuk mengerti tentang betapa pentingnya melestarikan alam hingga generasi selanjutnya kelak. Dari sisi budidaya pertanian dalam pelestarian alam yang dapat dilakukan adalah bagaimana kita mempraktekkan teknologi budidaya secara organik yang ramah lingkungan demi mewujudkan pertanian berkelanjutan. Mari perlahan kita tinggalkan praktek - praktek pertanian yang tidak ramah lingkungan seperti penggunaan pupuk kimia anorganik yang berlebihan.

Penggunaan pupuk kimia anorganik (sintetis) di Indonesia mulai berkembang pesat sejak dicanangkan program Bimbingan Massal (BIMAS) pada tahun 1968 dengan tujuan untuk meningkatkan produksi pertanian. Untuk memenuhi tujuan tersebut diperkenalkan teknologi intensifikasi pertanian yang dikenal dengan istilah Revolusi Hijau (green revolution). Revolusi hijau ini telah mampu mengubah sikap petani dari anti teknologi menjadi sikap mau memanfaatkan teknologi pertanian modern tersebut diatas.

Sejak diterapkan intensifikasi pertanian tersebut, konsumsi pupuk kimia/anorganik berkembang pesat karena varietas-varietas unggul baru yang responsif terhadap pupuk mengharuskan petani menggunakan pupuk kimia/anorganik. Program penyuluhan yang merupakan bagian dari paket program intensifikasi sangat berperan dalam mengubah persepsi petani dalam penggunaan pupuk. Demikian juga kebijakan subsidi harga pupuk kimia/anorganik oleh pemerintah juga merupakan faktor dominan yang ikut berperan dalam meningkatkan penggunaan pupuk kimia/anorganik. Penggunaan pupuk organik sejak diterapkannya program intensifikasi pertanian ini mengalami penurunan, terabaikan dan tertinggal.

Dalam kenyataannya, memang revolusi hijau tersebut telah mampu mencapai tujuan makronya yaitu peningkatan produktivitas, khususnya pada sub sektor pangan. Akan tetapi pada tingkat mikro, revolusi hijau (penggunaan pupuk kimia/anorganik) tersebut telah menimbulkan dampak negatif  yaitu:

  • Menurunnya tingkat kesuburan tanah yang diakibatkan karena adanya gangguan keseimbangan unsur hara dalam tanah;
  • Bagi kesehatan manusia kandungan residu kimia dalam produk pangan yang menggunakan pupuk kimia membahayakan tubuh manusia;
  • Tanaman menjadi sangat rawan terhadap Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), meskipun produktivitasnya tinggi;
  • Pencemaran lingkungan (air) akibat residu kimia yang ditinggalkan. 

Indikasi yang terlihat terjadinya fenomena pelandaian produksi (leveling off) terhadap produktivitas pertanian, walau dosis pupuk kimia/anorganik telah dinaikan dosisnya.

Dari hasil berbagai penelitian – penelitian diketahui bahwa fenomena levelling off ini juga disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan hara dalam tanah. Pemupukan N, P dan K dari pupuk kimia anorganik secara terus menerus dalam takaran tinggi diyakini telah menyebabkan ketidak seimbangan hara dalam tanah, menekan unsur hara mikro seperti Cu dan Zn, serta menguras bahan organik tanah yang sangat berperan dalam aktifitas biologi tanah. 

Dengan uraian diatas maka memasyarakatkan penggunaan pupuk organik yang recycleable dan ramah lingkungan dalam proses budidaya pertanian menjadi sangat penting . Hal ini dimaksudkan agar tetap dapat mempertahankan produktivitas lahan dengan cara mengembalikan kesuburan tanah melalui penggunaan pupuk organik serta meningkatkan kualitas lahan pertanian secara berkelanjutan. Selain itu penggunaan bahan organik sebagai pupuk juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan menjadai salah satu solusi untuk mengurangi limbah / sampah organik.  

Dari uraian tersebut diatas maka  perlu upaya merubah orientasi petani yang telah terbiasa menggunakan pupuk kimia anorganik kembali membiasakan penggunaan pupuk organik. Atau paling tidak mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan pupuk kimia anorganik jika belum dapat melepaskan sepenuhnya. 

Mengajak Petani Membuat Kompos


Pupuk organik memiliki kandungan hara yang lengkap. Bahkan di dalam pupuk organik juga terdapat senyawa-senyawa organik lain yang bermanfaat bagi tanaman, seperti asam humik, asam fulvat dan senyawa-senyawa organik lain. Asam humik dan asam fulvat. Kedua asam ini memiliki peranan seperti hormon yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman.

Pada intinya pupuk organik dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Fungsi fisika bahan organik adalah pengikat butiran primer menjadi butiran sekunder tanah dalam pembentukan agregat yang mantap. Hal ini besar pengaruhnya pada porositas, penyimpanan dan penyediaan air,aerasi dan temperatur tanah.

Meski secara kuantitatif pupuk organik sedikit mengandung unsur hara, namun fungsi kimianya yang penting antara lain (1). penyediaan hara makro (N, P, K, Ca, Mg dan S) dan hara mikro (Zn, Cu, MO, Co, Mn dan Fe). Penggunaan bahan organik dapat mencegah kahat unsur mikro pada tanah marginak atau tanah yang telah diusahakan secara intensif dengan pemupukan yang kurang berimbang; (2). Meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah; (3). Dapat membentuk senyawa kompleks dengan ion logam (Al, Fe dan Mn) yang meracuni tanaman serta menurunkan penyediaan hara.

Fungsi biologis bahan organik adalah sebagai sumber energi dan makanan mikroorganisme tanah sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah yang sangat bermanfaat dalam penyediaan hara dan siklus hara dalam tanah. Dengan demikian pemberian pemberian pupuk organik pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.

Sekali lagi bahwa memasyarakatkan manfaat penggunaan pupuk organik sebagaimana uraian tersebut diatas sangat diperlukan. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan-pelatihan, desiminasi melalui demplot-demplot, serta melalui penyuluhan menggunakan berbagai media (termasuk media internet), bimbingan, advokasi dan pendampingan melalui berbagai kelembagaan kelompok tani.

Ditinjau dari nilai ekonomis pupuk organik, pada bahan dasar pupuk organik non komersial dapat diperoleh dengan mudah tanpa biaya atau dengan biaya yang relatif rendah. Dengan demikian dapat menekan biaya produksi.

Bahan dasar pupuk organik non komersial dapat berasal dari sumber limbah pertanian insitu seperti sisa tanaman, limbah panen, pangkasan tanaman pagar atau tanaman lorong dalam budidaya alley cropping, pupuk hijau (seperti turi, sesbania, azzola, kudzu dll), tumbuhan liar (rumput, pakis-pakisan, lumut, eceng gondok dan lain - lain) serta kotoran dan urine hewan ternak. Selain itu sampah-sampah organik dari limbah rumah tangga juga dapat digunakan. Bahan – bahan tersebut dijadikan pupuk organik melalui teknologi pengomposan sederhana maupun dengan penambahan mikroba dekomposer maupun dibuat sebagai Pupuk Organik Cair (POC).

Dengan mudahnya mendapatkan bahan - bahan yang dapat dibuat pupuk organik, maka meskipun pembaca tinggal di daerah pedalaman sekalipun dapat dengan mudah membuatnya. Dalam blog saya ini sudah beberapa kali saya mengunggah bagaimana cara pembuatan pupuk organik yang mudah dibuat oleh siapapun.

Jadi... ayo mulailah gunakan pupuk organik pada usahatani anda... go green...   

 


Dari berbagai sumber 

Jumat, 23 Juli 2021

Mempertahankan Mutu Sayuran Melalui Pasca Panen Yang Tepat

Jumpa lagi para pembaca blog ini... pada kesempatan ini saya menulis tentang bagaimana cara mempertahankan mutu sayuran dari hasil panen agar nilai jual dari produk sayuran tersebut tidak merugikan. 

Sayuran sebagai salah satu produk hortikultura merupakan komoditi yang mudah rusak (perishable). Komoditi sayuran mengandung kadar air yang tinggi antara 70 -90%. Mulut daun (stomata) yang banyak terdapat pada bagian tanaman dapat menyebabkan mudah layu. Saat proses pasca panen yang tidak hati - hati dimana terjadi benturan menyebabkan sayuran mengalami memar, sehingga menimbulkan perubahan - perubahan fisik dan susunan kimianya yang akan mempercepat busuknya sayuran. Setelah panen proses pematangan pada komoditi tertentu (seperti tomat) masih berlangsung yaitu dari mentah menjadi matang, matang menjadi kelewat matang, kelewat matang menjadi busuk.

Faktor yang berpengaruh pada kerusakan hasil tanaman : 

  • Faktor biologis: repirasi, transpirasi, pertumbuhan lanjut, produksi etilen, hama dan penyakit  
  • Faktor lingkungan: Temperatur, kelembaban, komposisi udara, cahaya, angin, tanah/media

Jenis - jenis kerusakan pada produk sayuran yaitu:

1.      Kerusakan mikrobiologis 

Disebabkan oleh mikroorganisme antara lain oleh jamur dan bakteri. Faktor - faktor yang mempengaruhi tumbuhnya mikroorganisme antara lain yaitu: tersedianya nutrisi yang dibutuhkan mikroba, waktu, suhu, pH dan ketersediaan oksigen.

2.      Kerusakan mekanis

Yaitu berupa memar, luka dan hancur.  Penyebab memar bisa terjadi karena adanya benturan, gesekan dan tekanan pada sayuran sewaktu pemanenan, pemindahan, transportasi, grading. Biasanya gejala memar kurang terlihat, dan baru akan muncul beberapa hari kemudian. Luka pada sayuran banyak terjadi selama pemanenan yang disebabkan oleh alat panen yang digunakan. Luka pada sayuran dapat mengundang jamur dan bakteri. 

3.     Kerusakan fisik

Disebabkan adanya serangga, parasit atau tikus dimana terdapat lubang dan ada bekas gigitan. Selain itu juga bisa diakibatkan karena suhu yang tinggi, kelembaban yang relatif rendah dapat menyebabkan kehilangan air,  oksigen dan sinar matahari.

4.    Kerusakan biologis
Kerusakan ini disebabkan karena sayuran yang sudah dipanen tetap terjadi respirasi. Respirasi adalah suatu proses pertukaran gas yang melibatkan proses metabolisme perombakan senyawa makromolekul (karbohidrat, protein, lemak) menjadi CO2, air dan sejumlah energi. Laju respirasi yang sangat cepat  akan mempercepat proses kebusukan. Demikian juga laju proses respirasi akan menurunkan daya simpan

Agar komoditi sayuran kesegarannya dapat dipertahankan lebih lama hingga ketangan konsumen maka perlu pengetahuan tentang : 


Perlakuan panen dan pasca panen yang perlu dilakukan untuk memperpanjang kesegaran komoditi sayuran tersebut yaitu berupa:

1.      PEMANENAN

Yang perlu diperhatikan pada pemanenan adalah :

a.    Menentukan waktu panen yang tepat. Yaitu menentukan “kematangan” yang tepat dan saat panen yang sesuai. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :

-    Cara visual / penampakan : misal dengan melihat warna kulit, bentuk buah, ukuran, perubahan bagian tanaman seperti daun mengering dll

-   Cara fisik : misal dengan perabaan, buah lunak, umbi keras, buah mudah dipetik dan lain-lain.

-    Cara komputasi, yaitu menghitung umur tanaman sejak tanam atau umur buah dari mulai bunga mekar.

-    Cara kimia, yaitu dengan melakukan pengukuran/analisis kandungan zat atau senyawa yang ada dalam komoditas, seperti: kadar gula, kadar tepung, kadar asam, aroma dan lain-lain.

Waktu panen sayuran juga dapat ditentukan dengan mempertimbangkan harga dan jarak pemasaran untuk penjualan. Jika jarak tempat penjualan tergolong dekat, sayuran dapat dipanen pada saat sudah matang. Sebaliknya, jika jarak pemasaran jauh dan agar bisa disimpan lama maka lakukan pemanenan saat masih setengah matang. 

Bila panen sebelum matang kualitas produk akan rendah, begitu juga bila panen terlambat maka produk tidak tahan lama disimpan.  

 b.    Melakukan penanganan panen yang baik. Bertujuan untuk menekan kerusakan yang dapat terjadi. Cara panen  disesuaikan dengan kecepatan atau waktu yang diperlukan (sesingkat mungkin) dan dengan biaya yang rendah. Gunakan alat panen berupa gunting atau pisau yang tajam. Untuk tomat dan cabe menggunakan tangan. Pemanenan dilakukan hati - hati agar produk sayuran tidak terjatuh, tergores, memar karena jika luka maka terjadi pembusukan akibat peningkatan laju respirasi.

Untuk memilih waktu panen yang tepat atau kombinasi cara  yang sesuai dalam menentukan kematangan suatu komoditas, maka kita harus mengetahui proses pertumbuhan dan kematangan dari bagian tanaman yang akan dipanen. Misal:

  • Tomat dan cabai merupakan sayuran buah dimana proses pertumbuhannya dari buah terbentuk, buah kecil, membesar sampai suatu ketika ukurannya tidak bertambah lagi. Kemudian baru terjadi perubahan warna buah yang dapat terlihat sebagai kriteria matang. Perubahan warna pada tomat dari hijau - hijau kekuningan - kuning kemerahan - merah merata. Pada cabai: buah warna hijau - hijau kemerahan – merah merata - merah tua

contoh patokan panen dengan tujuan penyimpanan. Pada tomat : ukuran buah sudah tidak membesar lagi dan perubahan warna mulai terjadi (kuning). Pada cabai : Perubahan warna sudah terjadi, untuk mendapatkan warna merah yang baik, pemanenan harus dilakukan bila warna merahnya lebih dari 50%.  

  • Pada bawang merah, umbinya  merupakan pembesaran dari pelepah daun, jadi berlapis-lapis. Pembesaran umbi terjadi selama daun masih hijau, pematangan dicirikan dari pertumbuhan yang terhenti, kemudian “leher” mengecil/lunak/menutup. Lapisan paling luar akan mengering dan berfungsi sebagai kulit yang melindungi bagian dalam dari umbi. 

Pada bawang merah patokan pemanenan: daun tanaman harus sudah mengering lebih dari 70%, leher batang lunak dan kulit umbi sudah terbentuk (berwarna merah). 

2.      PENGUMPULAN

Pada tahap pengumpulan yang harus diperhatikan adalah :

  • Lokasi pengumpulan harus dekat dengan tempat pemanenan, agar tidak terjadi penyusutan atau penurunan kualitas akibat pengangkutan dari dan ke tempat penampungan
  • Penanganan dan spesifikasi wadah yang digunakan harus disesuaikan dengan sifat dan karakteristik komoditi sayuran
  • Wadah sebagai tempat penampung antara lain berupa keranjang, peti atau karung 
  • Produk sayuran segar harus terhindar dari kontak langsung sinar matahari agar tidak layu.

3.     SORTASI

yaitu pemisahan komoditas yang layak pasar (marketable) dengan yang tidak layak pasar. Pisahkan sayuran yang berkualitas kurang baik, seperti cacat, memar, luka, busuk dan bentuknya tidak normal dari sayuran yang berkualitas baik. Jika terkena hama atau penyakit juga dipisahkan agar tidak menular pada yang sehat. Pada proses sortasi dilakukan proses pembersihan, yaitu membuang bagian yang tidak diperlukan seperti daun tua, cacat atau busuk.

4.     PEMBERSIHAN (CLEANING.TRIMMING) DAN PENCUCIAN (WASHING)

Membersihkan sayuran dari kotoran atau benda asing lain, membuang bagian-bagian yang tidak dikehendaki seperti daun, tangkai atau akar yang tidak dikehendaki (tergantung permintaan konsumen). Khusus sayuran daun dicuci dengan menggunakan air bersih yang mengalir yang bertujuan untuk menghindari kontaminasi. Pencucian dengan air juga berfungsi sebagai pendinginan terlebih dahulu (pre-cooling) untuk mengatasi kelebihan panas yang dikeluarkan produk saat proses pemanenan sehingga memperpanjang kesegaran dan mencegah pengkristalan jika dimasukan ke dalam alat pendingin. Selain itu dengan pencucian juga dapat mengurangi residu pestisida dan hama penyakit yang terbawa.

5.    PENGKELASAN (GRADING)

Grading dimaksudkan untuk mendapatkan sayuran yang bermutu baik dan seragam dalam satu golongan/kelas yang sama sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan atau atas pemintaan konsumen. Grading dilakukan berdasarkan berat, besar, bentuk, rupa, warna, bebas dari penyakit, dan cacat lainnya. Tujuan dari tindakan grading ini adalah untuk memberikan nilai lebih (harga yang lebih tinggi) untuk kualitas yang lebih baik. Grading sangat tergantung pada jenis sayurannya.

 6.    PENGEMASAN

Untuk komoditi sayuran kemasan sangat penting karena sayuran memiliki waktu kesegaran relatif pendek dan mudah rusak. Padahal jarak lahan budidaya dengan konsumen cukup jauh. Keuntungan dari pengemasan yang baik: 

  • Melindungi produk sayuran dari kerusakan dari kerusakan mekanis  (gesekan, tekanan, getaran), melindungi dari pengaruh lingkungan  (temperatur, kelembaban, angin), melindungi dari kotoran / pencemaran  (sanitasi), dan melindungi dari kehilangan (pencurian) karena memudahkan pengontrolan

  • Memudahkan penanganan dimana memberikan kesinambungan dalam penanganan Mengacu pada standarisasi wadah / kontainer

  • Meningkatkan pelayanan dalam pemasaran Praktis untuk konsumen (pengemasan dalam skala kecil), lebih menarik, dapat untuk menyampaikan informasi produk yang dikemas. Penggunaan label dapat menerangkan cara penggunaan dan cara melindungi produk yang dikemas

  • Mengurangi / menekan biaya transportasi / biaya tataniaga

Jenis kemasan (packing) dapat berupa peti (kayu atau plastik), keranjang bambu, karung, kardus atau wadah lainnya.

Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam pengemasan :

  • Kemasan tidak toksin yang dapat mengganggu kesehatan manusia
  • Kemasan harus memberi perlindungan terhadap sifat mudah rusak sayuran yang menyangkut ukuran, bentuk konstruksi dan bahan yang dipakai.
  • Harga dan bentuk kemasan harus sesuai dengan nilai sayuran yang dikemas
  • Sayuran dalam kemasan harus dapat diambil dengan cara yang mudah dan aman
  • Kemasan harus cocok dengan kondisi pengangkutan dan harus dapat diterima oleh konsumen dengan baik

 7.    PENYIMPANAN

Setelah sayuran dipanen diletakkan pada tempat yang teduh agar panas lapang dapat terbuang. Tempat penyimpanan harus bersih dan memiliki ventilasi udara. Beberapa cara pembuangan panas lapang berikut ini merupakan perlakuan terbaik untuk memperpanjang daya simpan, yaitu:

  • Pendinginan dengan udara dingin yang mengalir (air cooling)

  • Pendinginan dengan merendam dalam air dingin mengalir atau dengan pencucian dengan air dingin (hydro cooling).

  • Pendinginan dengan cara kontak dengan es (ice cooling).

8.    PENGANGKUTAN

Pengangkutan umumnya diartikan sebagai penyimpanan berjalan. Faktor - faktor pengangkutan yang perlu diperhatikan adalah: 

  • Fasilitas angkutannya. Petani kecil umumnya memasarkan produk sayuran di pasar terdekat sehingga diangkut dengan cara sederhana tanpa pendingin. Bila alat pengangkut tidak berpendingin udara, hendaknya transportasi sayuran dilakukan pada saat malam atau dini hari. Selain itu produk sayuran juga hendaknya dijaga dari kemungkinan terjadinya benturan, gesekan dan tekanan yang terlalu berat sehingga dapat menimbulkan kerusakan atau menurunnya mutu produk tersebut. Hal ini dapat dihindari pengemasan yang baik dan dengan pengaturan tata letak wadah sayuran yang tepat di dalam alat transportasi. Penumpukan kemasan dan adanya goncangan akan mempercepat laju respirasi sehingga menurunkan kesegaran sayuran. Untuk menekan laju respirasi tersebut dapat diberikan perlakuan berupa kipas angin, es dan ventilasi udara

  • Jarak yang ditempuh atau lama perjalanan. Pengangkutan yang jaraknya lebih dari 200 km memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh

  • Kondisi jalan dan kondisi lingkungan selama pengangkutan

  • Perlakuan “bongkar-muat” yang diterapkan.

Pada tahap pengangkutan,  kemasan harus sudah memenuhi beberapa persyaratan, yaitu :

  • Melindungi sayuran dari kerusakan mekanik

  • Tidak menghambat lolosnya panas bahan  dan panas pernapasan dari produk

  • Mempunyai kekuatan konstruksi yang cukup untuk mengatasi penanganan dan penumpukan yang wajar.

Demikian uraian untuk mempertahankan mutu sayuran ini. Semoga bermanfaat bagi para pembaca.



Sumber:

https://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/11/penanganan_pasca_panen_hasil_pertanian.pdf.Tino Mutiarawati Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran

Rini Yulianingsih. Teknik Penanganan Pasca Panen 

Sinar Tani. Lembar Informasi Pertanian. Mempertahankan Mutu Sayuran.

Jumat, 02 Juli 2021

KOMUNIKASI PENYULUHAN

Sebagai seorang penyuluh pertanian didalam melakasanakan tugas tentunya memerlukan keterampilan berkomunikasi dengan petani yang didampingi. Kemampuan berkomunikasi seorang penyuluh pertanian menjadi salah satu faktor keberhasilan dalam menyuluh. Untuk itu seorang penyuluh pertanian perlu mempelajari bagaimana seni berkomukasi tersebut. 

Komunikasi adalah proses dimana suatu di dialirkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka (Rogers, 1986).


Proses komunikasi dalam penyuluhan pertanian untuk menarik perasaan, meyakinkan dan memotivasi agar bertindak dan berubah.

Proses sempurna apabila ada pertautan minat dan kepentingan (overlaping of interest) antara sumber dan penerima berdasar persamaan kerangka referensi (frame refence) : pendidikan, pengetahuan, latar belakang, pengalaman, kepentingan, budaya, bahasa dan sebagainya.

Penyuluh sebagai sumber perlu mengolah dan menyampaikan pesan dalam bahasa yang dimengerti petani sesuai dengan tingkat pengetahuan, pengalaman, orientasi, latar belakang budata (pengenalan karakter individu, sosial dan budaya) 

Prinsip - prinsip dalam teknik komunikasi :

  1. Menarik perhatian
  2. Menggugah hati
  3. Membangkitkan keinginan
  4. Meyakinkan 
  5. Menggerakan usaha
Berikut ini trik berbicara :
  1. Tarik nafas dalam - dalam
  2. Mengatur volume berbicara agar lebih jelas
  3. Menggunakan kata - kata sehari - hari
  4. Lepaskan pandangan ke kiri, kanan dan tengah
Teknik meningkatkan efektifitas berbicara verbal:
  1. Percaya diri
  2. Kata-kata jelas dan perlahan
  3. Bicara yang wajar
  4. Atur irama dan tekanan suara
  5. Menarik nafas dalam - dalam
  6. Hindari sindrum (exp: eh...,  anu...)
  7. Baca paragraf yang penting
  8. Siapkan air minum
Hal - hal yang menarik yang dapat mempengaruhi pembicaraan:
  1. Pakaian 
  2. Pandangan mata
  3. Air muka
  4. Sikap badan
  5. Suara
  6. Tulisan
  7. Senyum
  8. Berjabat tangan
  9. Berpikir, bertindak dan selalu senang
  10. Ingat nama
  11. Tunjukan daya tarik yang tulus
Hal - hal menarik yang dapat mendukung komunikasi yaitu:
  1. Menggunakan deskripsi
  2. Orientasi pemecahan masalah
  3. Spontanitas dan jujur
  4. Memberikan empati
  5. Yang mereka rasakan sama dengan kita rasakan
Ciri - ciri komunikasi yang efektif adalah:
  1. Langsung (to the point, tidak ragu menyampaikan)
  2. Asertif (tidak takut mengatakan apa yang diinginkan)
  3. Congenial (ramah dan bersahabat)
  4. Jelas (hal yang disampaikan mudah dipahami)
  5. Terbuka (tidak ada pesan dan makna yang tersembunyi)
  6. Secara lisan (menggunakan kata-kata untuk meyampaikan gagasan dengan jelas)
  7. Dua arah (seimbang antara berbicara dan mendengarkan)
  8. Responsif (memperhatikan keperluah dan pandangan orang lain)
  9. Nyambung (menginterprestasikan pesan dan kebutuhan orang lain dengan tepat)
  10. Jujur (mengungkapkan gagasan, perasaan dan kebutuhan yang sesungguhnya)
 Sumber: R.Hernawan, SP, MP (STPP Yogyakarta)

Jumat, 28 Mei 2021

BERTANAM TERONG DALAM POT

Apa kabar para pembaca blog ini??? 

Masih dalam rangka menggalakkan program Pemanfaatan Pekarangan Lestari (P2L) untuk mewujudkan ketahanan pangan rumah tangga dan untuk menekan angka stunting dengan penyediaan gizi bagi kelurga, kali ini saya memposting bagaimana cara bertanam terong dalam pot. Kali ini adalah bertanam terong dalam pot.

Tanaman Terong Dalam Karung
Lagi - lagi tentang mempunyai lahan terbatas, bukan berarti tidak bisa menanam terong di pekarangan. Bertanam dengan menggunakan polybag, pot atau pun memanfaatkan karung bekas dan sak semen. Selain membuat pekarangan jadi asri, Anda bisa banyak berhemat.  Rumah pun bisa menjadi hijau dan sejuk dengan sedikit kreativitas .

Terung  memiliki  kandungan  gizi  yang cukup  tinggi    dan  mempunyai  banyak  khasiat disebabkan  adanya  kandungan  alkaloid  solanin. 

Ayo kita ikuti langkah - langkah bertanam terong dalam pot berikut ini..  


PERSEMAIAN

Wadah semai yang digunakan seperti  polybag berukuran 10 x 12 cm² (berdiameter 5 cm), plastik bening bibit (oker), gelas air mineral yang sudah dilubangi bagian bawahnya, bekas rak telur baik yang dari kardus maupun yang dari plastik, ataupun dari daun pisang.

Masukan media semai berupa campuran tanah dan pupuk kandang/kompos dengan perbandingan 1 : 1. Bila tanahnya berliat bisa ditambah pasir. 

Sebelum disemai, biji/benih diberi perlakuan benih berupa direndam dahulu di dalam air hangat (50°C) selama 1 jam untuk memecahkan dormansi sehingga cepat berkecambah serta mematikan benih penyakit.

Tanam benih satu biji perwadah .Tutup biji dengan lapisan tanah tipis atau kompos. Biji yang telah dibenam disiram sampai basah. Taruh ditempat teduh atau dibuat sungkup. Penyiraman dilakukan setiap hari. 



Contoh Wadah Pembibitan Dari Daun Pisang

Bila bibit terung sudah berumur 6 minggu (1,5 bulan) atau sudah memiliki daun 4 - 5 helai, bibit tersebut sudah siap untuk ditanam ke dalam pot. 


PENANAMAN

Media  tanaman  ada baiknya disiapkan paling lambat 2 minggu sebelum tanam. Media tanam yang  cocok  atau idealnya adalah campuran  tanah  subur/tanah lapisan atas (topsoil) ,  pupuk kandang  dan  serbuk  gergaji (lebih baik sudah difermentasi dengan EM4 selama 3 minggu) atau sekam bakar dengan perbandingan 1 : 1 : 1.

Cara menanam pilih bibit yang tumbuh subur dan normal. Keluarkan dari wadah semai dengan hati - hati. Jika menggunakan wadah dari daun pisang maka bisa langsung ditanam tanpa membuang daun pisang karena bisa hancur dengan sendirinya seiring waktu.  

Kemudian buat lubang tanam.  Tenanaman  bibit  di  lubang  tanam  secara  tegak dan tidak terlalu dalam dan tutup dengan sedikit tanah. Taburkan pupuk SP-36 sebanyak 1 sendok kemudian tutup lagi dengan tanah dan padatkan tanah. Pemberian pupuk SP-36 digunakan sebagai pupuk dasar dimana salah satu fungsi P adalah untuk merangsang pertumbuhan akar tanaman muda sehingga dapat memperbanyak akar tanaman muda yang dapat menyerap unsur hara lebih banyak. Siram media tanam. 

Waktu penanaman dilakukan pada sore hari agar tanaman tidak layu. Satu pot berisi hanya 1 tanaman dan tidak boleh lebih.  Taruh tanaman di tempat yang sinar mataharinya cukup, karena tanaman terong memerlukan sinar matahari yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangannya.

 

PEMELIHARAAN

  • Penyiraman secukupnya setiap hari karena tanah dalam pot mudah kering
  • Penyiangan gulma / rumput liar harus dilakukan jika tumbuh di dalam pot agar tidak terjadi persaingan dalam pengambilan unsur hara.
  • Sulam  tanaman  yang  pertumbuhannya  tidak normal, mati  atau  terserang  hama  penyakit. Hal  ini  dilakukan  maksimal  umur  15  hari setelah tanam
  • Pemasangan  turus yang terbuat  dari  bambu atau kayu ukuran  80-100 cm. Sebaiknya dipasang  lebih  awal  agar  tidak mengganggu sistem  perakaran,  ditancapkan  secara individu dekat batang dan ikat.
  • Pemupukan  sebaiknya  dilakukan  dengan pupuk  organik seperti MOL atau POC. Semprot 1 minggu sekali atau dikocor. Jika menggunakan pupuk kimia seperti NPK maka dapat ditabur sebanyak 1 sendok kemudian ditutup dengan tanah sebulan sekali. Dapat juga NPK 1 genggam atau sekitar 3 sendok + POC sebanyak 1 gelas air mineral yang dicampur dengan air 20 liter, kemudian siramkan sebanyak 1 gelas air mineral dan lakukan 1 minggu sekali.
  • Lakukan pemangkasan (pruning) tunas - tunas liar yang tumbuh di ketiak daun pertama hingga bunga pertama. Hal ini dimaksudkan agar tunas - tunas baru dan bunga yang lebih produktif segera tumbuh. 
  • Setelah tanaman cukup umur untuk berbuah, maka untuk merangsang bunga dan buah yang banyak dilakukan pemupukan yang mengandung Kalium Pospat yang banyak tersedia di toko pertanian. Selain itu dapat juga bisa dicampur dengan POC perangsang fase generatif yang bisa kita buat sendiri.
  • Untuk mencegah serangan hama dan penyakit dapat dilakukan penyemprotan pestisida nabati secara rutin seminggu sekali pada pagi atau sore hari.

PANEN

Petik buah pertama setelah umur 3-4 bulan (tergantung  dari  jenis  dan  varietas  yang ditanam). Terung  dapat  berproduksi  hingga  umur  5-6 bulan. Buah dipetik dengan menggunakan gunting atau pisau. Panen buah berikutnya dapat rutin dilakukan 3 - 7 hari sekali. 

Demikian para pembaca sekalian cara bertanam terong dalam pot... semoga dapat bermanfaat... 




Sumber:

Firdaus & Endang susilawati. 2012. budidaya tanam terung dalam pot. balai pengkajian teknologi pertanian  (BPTP) jambi

Alexander J Rieuwpassa. Teknologi Budidaya Terung. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku 

  

Kamis, 27 Mei 2021

ASPEK - ASPEK PENTING DALAM PENYULUHAN

Pembaca dimanapun anda berada... jumpa lagi di blog ini...kali ini saya ingin membagikan tentang aspek -aspek penting dalam melaksanakan penyuluhan pertanian. Bagi anda yang bergerak dalam bidang penyuluhan pertanian penting mengetahui tentang hal tersebut. 

Menurut Dr. Ir. Achmad MS  bahwa  Prinsip - prinsip dasar dalam penyuluhan antara lain:

  1. Materi penyuluhan harus benar dan teruji
  2. Materi penyuluhan harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman obyek suluh
  3. Penyuluhan dilakukan dengan penuh keikhlasan
  4. Penyuluhan dilakukan dengan keteladanan
  5. Penyuluhan dilakukan dengan penuh kelembutan dan kebijaksanaan
  6. Penyuluhan dilakukan dengan memahamkan bukan mendikte
  7. Penyuluhan dilakukan dengan mendidik, bukan mencemooh, mencela atau membuka aib
  8. Penyuluhan dilakukan dengan mengenal dulu dengan baik obyek suluhnya
  9. Penyuluhan dilakukan secara bertahap
  10. Penyuluhan dilakukan secara terus menerus
  11. Penyuluhan dilakukan dengan menyampaikan dahulu harapan sebelum menyampaikan resiko
  12. Penyuluhan dilakukan dengan mempermudah bukan mempersulit
  13. Penyuluhan dilakukan berhati-hati agar tidak mudah tertipu
  14. Penyuluhan mengedepankan hal-hal prinsip sebelum menyampaikan hal-hal yang diperdebatkan
  15. Penyuluhan dilakukan terkoordinir rapi bukan secara pribadi
  16. Penyuluhan dilakukan disertai dengan doa kepada Allah SWT

Kompetensi penyuluh untuk menjalankan aktivitas:

  1. Jujur dengan Tuhan dan manusia, memiliki keikhlasan, keterbukaan, prinsip hidup dan integritas moral
  2. Antusias, memenuhi janji, serius, disiplin, berusaha maksimal, dan kerja sesuai standar
  3. Konseptual, research development, akademis, kreativitas inovatif, menguasai bidang kerja, operasional
  4. Komunikasi hubungan sosial, membangun visi norma, kepemimpinan dan mengelola konflik
  5. Sehat

Hindari kelemahan penyuluh :

  1. Mengharapkan pujian dari sesama
  2. Mengungkit-ungkit kebaikannnya
  3. Sombong
  4. Tertipu oleh manisnya dunia dan asesorisnya
  5. Ingin segera memetik hasilnya
  6. Mengikuti hawa nafsu
  7. Berlebih-lebihan 
  8. Lemah Semangat

Demikian para pembaca sekalian... semoga bermanfaat dan salam sehat...

Jumat, 23 April 2021

PEMBUATAN POC SEDERHANA DARI LIMBAH DAPUR

Halo para pekebun skala rumah tangga yang memanfaatkan pekarangannya... Masih giat bercocok tanam di pekarangan dimasa pandemi Covid 19??? Mari kita selalu ikut serta dalam pemanfaatan pekarangan lestari (P2L) dalam rangka mendukung ketahanan pangan keluarga. Jika ia... ayo kita membuat pupuk organik sederhana dari limbah dapur yang tentunya sayang dibuang. Lebih baik kita gunakan untuk memupuk tanaman kita. Hitung - hitung kita bisa ikut berperan dalam mengurangi sampah dan tentunya sayangi bumi dengan budidaya pertanian ramah lingkungan...go green...

Semua limbah rumah tangga dari sisa sayuran, limbah ikan dan udang, cangkang telur yang biasanya kita buang itu, bisa kita buat menjadi Pupuk Organik Cair (POC) sederhana. Seperti dirumah, saya tidak pernah membuang limbah dapur, selalu saya buat kompos maupun POC. Dirumah saya berbagai  jenis POC saya buat tergantung bahan dari limbah dapur yang ada. 

Beberapa jenis POC akan saya bagikan kali ini. Cara membuatnya sangat mudah. Yuk kita lanjut baca postingan ini...

 

POC KEPALA UDANG DAN LIMBAH IKAN

Biasanya dalam mengolah udang jadi makanan seringkali kepala dan kulitnya dibuang sehingga menjadi sampah dan berbau tidak sedap yang berakhir ke tempat pembuangan sampah begitu saja. Demikian juga dengan usus dan insang ikan yang biasa kita buang. Agar termanfaatkan ada baiknya dibuat POC yang menjadi sumber asam amino yang baik bagi pertumbuhan tanaman. 


Bahan:

  • Kepala dan kulit udang atau usus ikan dan insang 
  • Kulit pisang 1 kantong kecil (boleh tidak pakai)
  • Daun pandan/kulit jeruk/daun jeruk/daun serai 2 -3 genggam (agar mengurangi aroma udang/ikan) Jika tidak ada boleh tidak pakai
  • Air cucian beras 2 liter
  • Air biasa atau bekas cucian ikan atau udang 2 liter
  • Gula merah/gula pasir 10 sendok
  • EM-4 atau MOL nasi  50 cc (boleh tidak pakai)


Cara Membuat:

  • Masukkan air beras, gula dan EM-4/MOL Nasi ke dalam wadah plastik. Remas – remas gula agar larut
  • Tambahkan kulit udang, insang dan usus ikan serta cincangan kulit pisang 
  • Aduk rata. Tutup  wadah dengan plastik kemudian diikat dengan tali ban erat-erat agar udara tidak masuk (kedap). Sisakan ruang dalam wadah agar ada rongga udara. 
  • Buka tutup wadah sebentar selama 1 - 5 hari pertama untuk membuang gas. Biarkan selama 15 hari.
  • Setelah 15 hari beri cincangan daun pandan/daun jeruk/serai ke dalam wadah. Tujuannya untuk mengurangi bau
  • Biarkan kembali selama 2 minggu. Setelah itu POC siap digunakan. 

POC KULIT PISANG + CANGKANG TELUR

Kulit pisang dan cangkang telur sangat mudah dijumpai sebagai limbah rumah tangga. Kulit pisang kaya Kalium (K), Kalsium (Ca), Mangan (Ma), Sodium, Magnesium (Mg) dan belerang/sulfur (S) yang dibutuhkan oleh setiap tanaman.

Cangkang telur merupakan sumber dari Kalsium Karbonat (CaCO3) yang paling kaya (97%), selain itu juga mengandung unsur P (3%), K, Mg, Na, Ma, Ze, Fe dan Cu. Bahan – bahan tersebut bagus untuk POC.

Jadi POC ini baik digunakan pada fase generatif (pembentukan bunga dan buah).

Bahan

  • Kulit pisang 10 buah
  • Cangkang telur 10 buah
  • Gula pasir/gula merah 1 ons
  • Air cucian beras 3 liter

Cara Pembuatan:

  • Cincang kulit pisang atau bisa juga dibiarkan utuh. Tetapi agar kandungan unsur hara/nutrisi dalam kulit pisang lebih baik dicincang
  • Cuci cangkang kemudian belah – belah cangkang telur menjadi beberapa bagian atau bisa juga diremas agar hancur
  • Larutkan gula dalam air cucian beras dalam wadah POC
  • Masukkan kulit pisang dan cangkang telur
  • Aduk rata. Tutup  wadah dengan plastik kemudian diikat dengan tali ban erat-erat agar udara tidak masuk (kedap). Sisakan ruang dalam wadah agar ada rongga udara
  • Buka tutup wadah sebentar selama 1 - 5 hari pertama untuk membuang gas. 
  • Biarkan selama 30 hari. Fermentasi lebih lama karena kandungan zat dalam cangkang lebih sulit larut. Jika ingin mempercepat pelarutan zat dari cangkang dalam waktu 15 hari dapat diberi EM4, eco enzyme (lihat postingan saya sebelumnya tentang cara membuat eco enzyme) ataupun cuka yang bersifat asam yang sifat asamnya melarutkan zatnya 
  • Jika akan digunakan saring, ambil airnya. Ampasnya dapat dijadikan kompos untuk media tanam.


POC  CANGKANG TELUR

Aplikasi pupuk kaya unsur kalsium (Ca) pada daun tanaman dapat mencegah buah yang  busuk ujung  pada tanaman tomat, pecah buah pada semangka, busuk lunak pada mangga

Unsur Kalsium (Ca) diperlukan untuk tanaman mencegah nekrosis daun, akar coklat pendek, meningkatkan data tahan tanaman terhadap serangan penyakit jamur dan bakteri, batang lemah, pertumbuhan terhambat dan mencegah rontok buang dan buah serta meningkatkan daya simpan hasil panen.

Pupuk kaya kalsium (Ca) dapat dibuat sendiri dengan bahan yang sudah ada di rumah yaitu antara lain dengan cangkang telur. Cangkang telur seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, mengandung 97% kalsium karbonat serta 3% fosfor dan magnesium, natrium, kalium, seng, mangan, besi dan tembaga.


Cara Membuat

Ada beberapa cara membuat POC cangkang telur, yaitu:

  1. Cangkang telur sebanyak 5 ons dicuci terlebih dahulu dengan air kemudian dipisahkan dari membran bagian dalam dan dijemur selama satu hari dengan sinar matahari, dinginkan. Cangkang telur ayam yang sudah kering kemudian di haluskan (ditumbuk atau diblender). Bubuk cangkang telur dilarutkan dengan EM-4 cair 500 ml (bisa diganti dengan cuka atau eco enzyme). kemudian ditambah air sebanyak 3 liter. Tutup wadah. Biarkan selama 10 hari. Saring, pisahkan ampasnya jika hendak digunakan.
  2. Rendam cangkang telur dengan air dalam toples. Biarkan selama satu bulan, agar larut nutrisi penting ke dalam cairan tersebut


Cara aplikasi semua POC tersebut diatas:

  • Campurkan 280 cc  POC per 14 Liter air ( 20 cc per liter air). Semprotkan ke tanaman pada pagi atau sore hari setiap 1 minggu atau 10 hari sekali
  • Bisa juga dikocorkan langsung ke tanah dengan dosis 300 cc per  20 liter air biasa. Setelah tercampur siram/kocorkan ke tanah sebanyak 1 gelas air mineral.


Demikian para pembaca cara pembuatan POC sederhana ini... mudah kan??? ayo dicoba. Mari hijaukan bumi... go green...

 

Sumber:

https://www.gardeningknowhow.com/garden-how-to/soil-fertilizers/calcium-fertilizer.htm